TASIKMALAYA, RADATASIK.ID – Ada jabatan yang otomatis membuat orang terdengar. Ada pula yang justru membuat pemiliknya menghilang.
Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya, H. Budi Ahdiat, belakangan lebih sering masuk kategori kedua.
Namanya lama tak terdengar. Bukan karena kontroversi. Bukan pula karena gebrakan.
Baca Juga:IKA PMII Sebut Memimpin Kota Tasikmalaya Bukan Lari dari Dialog!Turnamen Basket Cypher Cup Kota Tasikmalaya Berakhir, SMAN 1 dan SMAN 5 Jadi Juara
Ia sempat sakit. Cukup lama. Publik memahami. Kesehatan memang urusan manusiawi. Ketua DPRD juga manusia. Bukan mesin politik.
Kini ia kembali aktif. Duduk lagi di kursi pimpinan. Menghadiri agenda. Memimpin rapat. Tetapi suara politiknya masih pelan. Bahkan nyaris tak terdengar. Perannya, sejauh ini, terasa timbul-tenggelam.
Sebagai Ketua DPRD, publik menunggu evaluasi. Kritik. Atau sekurangnya penegasan sikap terhadap kinerja pemerintah daerah. Tapi yang muncul justru kesan aman. Terlalu aman. Safety politik.
Jarang terdengar pernyataan yang menekan eksekutif. Hampir tak ada evaluasi keras. Apalagi soal kesenjangan sosial, kepedulian terhadap rakyat kecil, atau isu-isu sensitif yang biasanya membuat DPRD terasa hidup.
Ketua DPRD seperti memilih berdiri di tengah. Tidak ke kiri. Tidak ke kanan. Tidak terlalu depan. Tidak pula terlalu belakang.
Padahal, pengalaman politiknya tidak bisa dianggap sepele.
Budi Ahdiat bukan pendatang baru. Ia lahir di Tasikmalaya, 17 Mei 1964. Dunia politik ia kenal sejak lama. Bahkan sebelum banyak politisi hari ini belajar bicara di depan kamera.
Pendidikannya dimulai dari SDN Jayaratu. Lanjut ke SMP Leuwisari. SMA Muhammadiyah Tasikmalaya. Ia kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jalur akademik yang seharusnya melatih nalar, keberanian berpikir dan kepekaan sosial.
Baca Juga:Kasus Eksploitasi Anak Viral, UPTD PPA Kota Tasikmalaya Ungkap Edukasi Sekolah Sudah Dilakukan Sejak LamaDari PPDB hingga MBG, Golkar Kota Tasikmalaya Ajak Kader Jadi “Polisi Sosial” Kebijakan Pemerintah
Ia masuk politik lewat PAN. Pernah menjadi anggota DPRD Kota Tasikmalaya. Terpilih kembali periode 2004–2009. Tahun 2005, ia dipercaya menjadi Ketua DPD PAN Kota Tasikmalaya. Artinya, ia bukan figur yang tiba-tiba muncul.
Ia juga pernah aktif di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tasikmalaya periode 1998–2003. Organisasi yang dikenal kritis, berjarak dengan kekuasaan, dan peka terhadap isu umat serta rakyat.
Lalu ia pindah ke Gerindra. Di partai besutan Prabowo Subianto itu, kariernya justru menanjak. Kini menjabat Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Tasikmalaya. Dan akhirnya: Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya periode 2024–2029. Dengan rekam jejak sepanjang itu, publik wajar berharap lebih.
