Barangkali niatnya baik. Barangkali lari memang sehat. Barangkali berbagi itu tulus.
Namun di mata publik, intensitas yang berlebihan bisa menggeser makna. Ketika pemimpin terlalu sering terlihat berlari, sementara rakyat merasa aspirasinya jalan di tempat, maka lari menjadi metafora yang tidak diinginkan.
Pemimpin, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia berlari. Tapi dari seberapa sering ia berhenti. Berhenti mendengar. Berhenti menemui. Berhenti bersama rakyat yang tidak sedang berlari ke mana-mana—karena mereka sudah terlalu lelah.
Baca Juga:Gelorakan Kedisiplinan, 93 Sekolah Ikuti LKBB Grilya Mustofa Nasional di MAN 1 TasikmalayaLogay, Nama yang Terlalu Banyak Gaya!
Di Kota Tasikmalaya hari ini, yang dibutuhkan mungkin bukan lari lebih cepat. Melainkan keberanian untuk berdiri.
Diam sejenak. Dan menghadapi kenyataan. (red)
