Lari yang Berubah Makna di Kota Tasikmalaya! (Part 1)

Berita wali kota tasikmakaya Lari
Wali Kota Tasikmakaya Viman Alfarizi saat berolahraga bersama para ASN. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK. ID – Dulu, lari itu sehat. Sekarang, di Kota Tasikmalaya, lari mulai terasa letih.

Bukan karena jaraknya terlalu jauh. Bukan karena napas yang habis. Tapi karena maknanya yang berubah.

Kata lari kini tidak lagi sekadar olahraga. Ia sudah menjelma simbol. Bahkan, bagi sebagian warga, simbol yang getir.

Baca Juga:Gelorakan Kedisiplinan, 93 Sekolah Ikuti LKBB Grilya Mustofa Nasional di MAN 1 TasikmalayaLogay, Nama yang Terlalu Banyak Gaya!

Semua berawal dari terlalu seringnya lari tampil di ruang publik. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, memang gemar berlari.

Ia membungkusnya rapi dalam program Tasik GEMAS—Gerakan Masyarakat Sehat. Secara konsep, tidak ada yang salah. Olahraga, sehat, berbagi. Semua kata baik.

Tapi publik bukan hanya membaca konsep. Mereka membaca konteks.

Jumat pagi, 30 Januari 2026. Jam enam. Udara masih ramah. Di kawasan Taman Kota Tasikmalaya, digelar Run for Charity, Lari Pagi Sambil Berbagi. Lima kilometer. Start dan finish di tempat yang sama. Setelah itu, sembako dibagikan. Ada juga penyerahan bantuan Peduli Sumatera sebesar Rp158.361.250 kepada Baznas.

Lengkap. Rapi. Fotogenik.

Masalahnya, di luar taman kota, ada hal-hal yang tak ikut berlari. Di kolom komentar akun resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya, respons publik berlari lebih kencang. Bahasanya Sunda. Nadanya sinis. Isinya lelah.

“Demo percuma.”

“Wali kota jago diem.”

“Lari wae, teu daék nepungan rahayat.”

Ada yang mengingatkan demo-demo sebelumnya. Ada yang membandingkan kehadiran pejabat. Ada pula yang menulis pendek, tapi menohok: lari dari kenyataan.

Di titik ini, lari bukan lagi tentang kebugaran. Ia ditarik ke wilayah etika kepemimpinan. Beberapa warganet mempertanyakan etos kerja.

“Kitu we nya pagawéan téh,” tulis seseorang.

Kalimat singkat. Tapi berat.

Ada pula yang menyindir lebih pahit.

Baca Juga:Wajah Baru Pengurus PAC PDIP Tamansari, Imam Mulyana Isi Kursi SekretarisKiai Miftah Fauzi Membaca Ulang Kota Tasikmalaya!

Rakyat disuruh tenang. Jangan marah. Jangan ribut. Jangan demo. “Bukan disuruh lalumpatan,” tulis akun lain.

Maksudnya jelas: jangan lari dari masalah.

Yang paling getir adalah komentar yang terdengar bercanda, tapi sebenarnya luka:

“Hayu atuh urang saréréa lari. Asal teu kalaparan.” Di situ olahraga bertemu realitas ekonomi.

0 Komentar