Di sinilah perbandingan Fabregas dan Gasperini mulai terasa nyata. Keduanya sama-sama mengedepankan sepak bola agresif, intens, dan berbasis ide.
Bedanya terletak pada titik awal. Como, berkat kekuatan finansial keluarga Suwarso, bisa langsung merekrut pemain mahal seperti Martin Baturina senilai €25 juta atau sekitar Rp425 miliar dari Dinamo Zagreb, serta Jesus Rodriguez seharga €22,5 juta atau setara Rp382,5 miliar dari Real Betis.
Sebuah kemewahan yang tak dimiliki Atalanta di fase awal kebangkitan mereka.
Namun, kemudahan ini tidak serta-merta mengurangi nilai kerja Fabregas.
Baca Juga:Media Italia Puji Debut Daniel Maldini Bersama Lazio: Pintar Buka Ruang untuk Pemain SayapInter Milan Ketemu Bodo/Glimt di Babak Playoff Liga Champions, Zanetti Waspadai Ancaman Cuaca Dingin
Justru tantangannya berbeda: menyatukan talenta mahal ke dalam satu sistem yang cair dan efektif. Sejauh ini, Fabregas dinilai berhasil.
Como bahkan disebut-sebut memainkan sepak bola terbaik di Italia saat ini, dengan kombinasi penguasaan bola, intensitas pressing, dan fleksibilitas taktik.
Derbi Lombardia ini pun menjadi lebih dari sekadar perebutan poin. Dengan jarak hanya lima poin di klasemen, Como dan Atalanta terlibat langsung dalam persaingan menuju zona Eropa.
Lebih dari itu, laga ini mempertemukan dua filosofi segar dalam sepak bola Italia modern, yang sama-sama berakar dari warisan Gasperini.
Fabregas, yang baru berusia 38 tahun, kerap dibandingkan dengan pelatih-pelatih muda progresif.
Sementara di kubu Atalanta ada Raffaele Palladino, 41 tahun, yang dianggap murid paling mendekati gaya Gasperini.
Keduanya menjadi simbol generasi baru pelatih Italia dan Eropa: menolak permainan bertahan, menggabungkan estetika dan pragmatisme, serta tidak terjebak dalam skema kaku.
Baca Juga:Hasil Undian Babak Play-off Liga Champions: Inter vs Bodo/Glimt, Juventus Hadapi GalatasarayMedia Italia: AC Milan Sukses Curi Striker Incaran Juventus
“Sepak bola milik semua orang dan bisa dimenangkan dengan banyak cara,” ujar Fabregas dalam salah satu kesempatan.
Prinsip ini pula yang selama bertahun-tahun diekspor Atalanta ke Eropa, hingga berujung pada gelar Liga Europa dua musim lalu.
Fabregas sendiri tak ragu menyebut Atalanta sebagai model ideal, sekaligus tolok ukur yang ingin ia lampaui bersama Como.
Jika melihat kecepatan perkembangan Como saat ini, waktu yang dibutuhkan untuk menyamai, bahkan menyaingi Atalanta, bisa jadi lebih singkat dari yang dibayangkan.
Duel Minggu malam nanti mungkin baru satu pertandingan, tetapi bagi banyak pengamat, itu adalah potret masa depan sepak bola Italia.
