Bagi Biasin, kasus ini bukan pengecualian, melainkan gambaran umum dari kebijakan transfer Como.
“Hal yang sama berlaku untuk hampir seluruh pemain dalam skuad racikan Fabregas,” ungkapnya.
Hampir semua pemain menunjukkan perkembangan performa sekaligus peningkatan nilai pasar, sesuatu yang jarang terjadi jika sebuah tim hanya mengandalkan kekuatan finansial tanpa ide yang jelas.
Sorotan Biasin juga tertuju pada rekrutan terbaru Como, Andres Cuenca.
Baca Juga:Media Italia Ungkap 4 Alasan AC Milan Curi Striker Incaran JuventusIvan Perisic Ngotot Pulang ke Inter, Agen Temui Petinggi PSV
Bek kelahiran 2007 itu didatangkan dari Barcelona dengan harga yang nyaris tak masuk radar klub-klub besar: hanya €500 ribu, atau sekitar Rp8,5 miliar.
Dalam kesepakatan tersebut, Barcelona memang menyertakan klausul persentase penjualan kembali, namun tetap saja, ini dianggap sebagai langkah cerdas.
“Siapa pun sebenarnya bisa merekrutnya,” tulis Biasin, “tetapi yang melakukannya adalah Como.”
Kalimat ini menegaskan poin utamanya: Como bukan sekadar klub kaya, melainkan klub yang jeli membaca peluang.
Mereka berani bertaruh pada talenta muda sebelum nilainya melonjak, bukan setelah harga melambung tinggi.
Bagi Biasin, masa depan akan menjadi hakim terakhir. Apakah Cuenca akan mengikuti jejak para pendahulunya dan melipatgandakan nilai dalam waktu singkat? Itu masih harus dibuktikan.
Namun, pola yang dibangun Como sejauh ini memberi alasan kuat untuk optimisme.
Baca Juga:Como Mainkan Sepakbola Terbaik di Italia, Fabregas Disebut Titisan Gasperini di AtalantaMedia Italia Puji Debut Daniel Maldini Bersama Lazio: Pintar Buka Ruang untuk Pemain Sayap
Di akhir tulisannya, Biasin menutup dengan satu kesimpulan sederhana namun tajam: uang memang penting dalam sepak bola modern, tetapi ide jauh lebih penting.
Como, di bawah Fabregas dan manajemen yang solid, menjadi contoh nyata bahwa strategi, visi, dan kecerdasan dalam mengambil keputusan bisa berbicara lebih keras daripada sekadar besarnya dana yang dimiliki.
