TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah tekanan inflasi dan naiknya harga kebutuhan pokok, warga Kampung Bantarsari (Babut) RW 016, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, memilih jalan tak biasa: menyulap selokan menjadi kolam ikan lele.
Program swadaya masyarakat itu diprakarsai tokoh setempat, Ahep Ahbab Abdillah.
Ia mengaku ide tersebut muncul secara spontan usai menonton tayangan televisi tentang pemanfaatan drainase untuk budidaya ikan.
“Saya lihat berita di televisi malam Senin tentang tanam lele di drainase. Terus buka YouTube sambil merokok, sambil lihat selokan depan rumah. Seketika muncul inisiasi untuk mencoba,” kata Ahep, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga:8 Kandidat Bakal Calon Rektor Unsil Bertarung Perebutkan 35 Suara, ini Nomor UrutnyaUPTD PPA Ogah Disebut Ikut Manggung: Jangan Sampai Kasus Eksploitasi Anak Jadi Arena Saling Klaim
Malam itu juga, Ahep menghubungi komunitas Bank Sampah Al Uswah serta saudaranya untuk membantu pengadaan benih ikan lele.
Keesokan harinya, Senin pagi (26/1/2026), para anggota Bank Sampah sambil melakukan penarikan sampah rutin mulai berkomunikasi dengan pengurus RT dan RW terkait rencana penanaman lele di drainase lingkungan.
“Respon pengurus setempat mendukung. Setelah beres narik sampah, barudak langsung bersih-bersih selokan di lokasi pertama,” ujarnya.
Pada hari Selasa (27/1/2026), kegiatan difokuskan pada pembersihan selokan, pembuatan bendungan kecil, serta persiapan lokasi budidaya.
Rabu pagi (28/1/2026), dilakukan pematangan lokasi, dan siangnya Ahep mengambil benih lele dari wilayah Tamansari.
“Sore langsung dilaksanakan penebaran. Tapi masih kurang banyak karena masih ada tiga lokasi lagi. Belum ada penerangan juga, jadi saya minta ke saudara saya untuk dibantu menghadirkan lampu,” katanya.
Saat ini, baru sekitar 2.000 ekor lele yang berhasil ditebar di satu titik drainase.
Baca Juga:Handphone dan Dua Akun Medsos Jadi Barang Bukti Kasus Eksploitasi Anak di Kota TasikmalayaKuasa Hukum Korban Eksploitasi Anak Bongkar Fakta Lain: UPTD PPA Kota Tasikmalaya Tak Pernah Dampingi
Padahal, berdasarkan perhitungan warga, satu lokasi idealnya menampung sekitar 4.000 ekor ikan.
“Kalau satu lokasi 4.000 ekor, berarti empat lokasi butuh sekitar 16.000 ekor supaya maksimal, ideal, optimal, dan proporsional,” jelas Ahep.
Lokasi budidaya tidak hanya di satu titik, melainkan mencakup beberapa ruas selokan sisi jalan di lingkungan RW 016.
Selokan yang sebelumnya identik dengan bau dan sampah kini berubah fungsi menjadi kolam hidup.
Inisiatif warga ini dinilai sebagai bentuk kreativitas masyarakat Kota Tasikmalaya dalam menghadapi situasi ekonomi.
