Mattia Della Rocca: Cara Gasperini Patahkan Mitos Pemain Muda Kurang Dipercaya di Italia

Mattia Della Rocca
Mattia Della Rocca Foto: Tangkapan layar Instagram@officialasroma
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Laga Panathinaikos vs AS Roma pada matchday terakhir fase grup Liga Europa bukan sekadar pertandingan penentu posisi klasemen.

Di Athena, Gian Piero Gasperini kembali mengirim pesan kuat ke sepak bola Italia: pemain muda bukan sekadar pelengkap, melainkan solusi nyata.

Pada menit ke-67, Lorenzo Pellegrini meninggalkan lapangan. Masuklah Mattia Della Rocca, gelandang kelahiran 13 Januari 2006, yang mencatatkan debut kompetitifnya bersama tim utama Roma.

Baca Juga:Intip Calon Lawan AS Roma di Babak 16 Besar Liga EuropaAS Roma dan Napoli Bersaing Ketat Rekrut Gelandang Atalanta

Sebuah momen penting, bukan hanya bagi sang pemain, tetapi juga bagi filosofi Gasperini yang selama ini konsisten memercayai talenta muda.

Dua tahun lalu, Della Rocca juga sudah mencicipi atmosfer tim utama dalam laga persahabatan di Perth melawan AC Milan, ketika Daniele De Rossi memberinya menit bermain sebagai pengganti Angelino.

Namun, malam di Athena menandai langkah resminya di panggung kompetitif Eropa, sebuah lompatan besar bagi pemain yang saat ini masih terdaftar sebagai penggawa Roma U-20.

Berposisi sebagai gelandang serang, Della Rocca dikenal memiliki visi bermain yang matang, keberanian membawa bola, serta kemampuan membaca ruang.

Kaki kanannya dominan, dan di usia 20 tahun, ia sudah menunjukkan kematangan yang jarang dimiliki pemain seusianya.

Agen yang menaunginya, YOU FIRST, dikenal aktif mengelola talenta muda Eropa, dan Roma tampaknya sadar betul aset yang mereka miliki.

Konteks debut Della Rocca pun jauh dari kata ideal. Gasperini datang ke Athena dalam kondisi darurat.

Baca Juga:Media Italia: Anak Legenda Inter Siap Gantikan CalhanogluLiga Europa: AS Roma dan Bologna Targetkan Finis 8 Besar

Paulo Dybala hanya menjadi penonton karena masalah lutut, Dovbyk dan Ferguson absen, sementara rekrutan anyar seperti Malen dan Vaz baru bisa dimainkan di babak 16 besar.

Roma praktis tanpa penyerang tengah, tanpa opsi ofensif dari bangku cadangan, dan minim pemain pengalaman di beberapa posisi kunci.

Namun, justru di tengah keterbatasan itulah karakter Roma terlihat jelas. Bahkan saat bermain dengan sepuluh pemain, struktur pertahanan Giallorossi tetap kokoh.

Mereka memang kebobolan, tetapi tidak pernah runtuh. Tetap kompak, disiplin, dan fokus. Sebuah ketangguhan mental yang menjadi ciri khas tim Gasperini.

Gol pemain muda Ziolkowski menjadi titik balik. Gol indah, gol pertamanya untuk Roma, yang lahir dari proses kolektif: Pisilli tampil luar biasa sebagai motor permainan, tim saling menopang, dan Ziolkowski menyelesaikannya dengan kualitas.

0 Komentar