Ketika Kesehatan Mental Diserahkan ke Warga: Potret Rehabilitasi ODGJ Mandiri di Kota Tasikmalaya

rehabilitasi ODGJ mandiri di Kota Tasikmalaya
Iwan, pemilik rumah rehabilitasi Yayasan Darul Ihsan di Bungursari Kota Tasikmalaya menunjukkan ruangan para penghuni bermukim, Jumat (30/1/2026). Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Di tempat ini, rehabilitasi dilakukan dengan cara sederhana: terapi psikologis dasar, pendampingan aktivitas harian, hingga rukiah.

Metodenya disesuaikan dengan kondisi masing-masing penghuni. Tidak ada resep instan, tidak ada target sembuh cepat.

“Tidak bisa disamakan semua. Ada yang harus sering diajak bicara, ada yang cukup didampingi kegiatannya, ada juga yang perlu rukiah. Prosesnya lama,” jelas Eli.

Tujuan mereka bukan kesembuhan kilat, melainkan stabilitas.

Baca Juga:KPAD Kota Tasikmalaya Pasang Alarm Digital: Childhood Grooming Makin Lincah, Anak Jangan Jadi Korban KontenKorban Kasus Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya Masih Trauma, Kuasa Hukum: Akan Membuat Laporan Baru

“Target kami bukan sembuh cepat, tapi mereka lebih tenang, lebih terarah, dan tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain,” jelas Iwan.

Keberadaan Yayasan Darul Ihsan menjadi potret rehabilitasi berbasis warga yang tumbuh di luar sistem formal. Di satu sisi, ini adalah kisah kepedulian sosial yang lahir dari nurani keluarga.

Di sisi lain, ini juga cermin bolongnya pendataan dan dukungan negara terhadap praktik rehabilitasi mandiri yang sudah lama hidup di masyarakat.

Di Kota Tasikmalaya, ketika regulasi sibuk di atas kertas, Darul Ihsan sibuk menyiapkan makan, membersihkan kamar, dan menenangkan jiwa-jiwa yang goyah.

Rumah kecil itu menjadi saksi: kesehatan mental masih sering ditopang oleh empati warga, bukan kebijakan negara. Dan di Bungursari, rehabilitasi berjalan bukan karena program, tapi karena kemanusiaan. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar