TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di sudut Kampung Rancabendem, RT 01 RW 05, Kelurahan Sukalaksana, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, sebuah rumah tua terus bekerja diam-diam.
Bukan sebagai hunian biasa, melainkan sebagai tempat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), penyintas stres berat, hingga individu dengan riwayat penyalahgunaan narkoba.
Namanya Yayasan Darul Ihsan. Namun jangan bayangkan bangunan megah dengan plang resmi dan barisan tenaga medis berseragam.
Baca Juga:KPAD Kota Tasikmalaya Pasang Alarm Digital: Childhood Grooming Makin Lincah, Anak Jangan Jadi Korban KontenKorban Kasus Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya Masih Trauma, Kuasa Hukum: Akan Membuat Laporan Baru
Yang mengelola tempat ini hanya sepasang suami istri: Eli Kurniawati dan Iwan.
Tanpa anggaran pemerintah, tanpa struktur organisasi, bahkan tanpa tercatat dalam administrasi negara.
Jika negara punya sistem, Darul Ihsan punya kesabaran.
Saat ini, sembilan orang dirawat di rumah tersebut. Empat di antaranya ODGJ, mayoritas sudah lanjut usia. Penghuni tertua berusia sekitar 60 tahun.
Mereka datang dari berbagai daerah—Puspahiang, Bandung, hingga Bogor—dikirim oleh keluarga yang kehabisan waktu, tenaga, dan mungkin juga harapan.
“Sebagian besar dititipkan oleh anak-anaknya. Mereka tidak sanggup merawat sendiri di rumah,” ujar Eli, Jumat (30/1/2026).
Rumah yang dipakai bukan fasilitas rehabilitasi hasil proyek atau bantuan sosial.
Bangunan itu adalah rumah warisan keluarga yang sejak dulu memang digunakan untuk merawat ODGJ. Tradisi itu mengalir lintas generasi.
Baca Juga:Warga Cipedes Sulap Selokan Jadi Kolam Lele, Upaya Lawan Inflasi dari Drainase Kota Tasikmalaya8 Kandidat Bakal Calon Rektor Unsil Bertarung Perebutkan 35 Suara, ini Nomor Urutnya
“Dari orang tua sampai kakek nenek saya, rumah ini sudah dipakai untuk membantu merawat orang dengan gangguan jiwa. Jadi sekarang kami hanya meneruskan kebiasaan keluarga,” katanya.
Di tengah gencarnya program kesehatan mental dan jargon layanan inklusif, Darul Ihsan justru berjalan di jalur sunyi. Tidak ada bantuan pemerintah karena secara administratif mereka “tidak ada”.
“Kami belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Semua biaya kami tanggung sendiri, dari makan sampai perawatan,” tutur Eli.
Sumber dana satu-satunya berasal dari penghasilan Iwan sebagai kondektur bus antarkota.
Penghasilan yang tidak tetap itu harus dibagi antara kebutuhan keluarga dan sembilan penghuni rehabilitasi.
Iwan tak menampik beratnya beban ekonomi.
“Kalau dihitung secara uang, jelas berat. Tapi sejak awal kami sudah tahu konsekuensinya. Yang penting mereka tidak terlantar,” katanya.
