Braille Masih Tersisih di Kota Tasikmalaya, Akses Tunanetra Kalah Cepat dari Pembangunan Visual

akses Braille di Kota Tasikmalaya masih minim
Siswa Tunanetra di Kota Tasikmalaya ikuti lomba menulis dan membaca braille di salah satu restoran cepat saji, Kamis (29/1/2026). Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Bagi tunanetra, mendengar bukan pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan agar tetap terhubung dengan pengetahuan.

Peringatan ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra.

Ia mengakui sarana publik ramah difabel di Kota Tasikmalaya masih jauh dari ideal.

“Kalau bicara mendekati sempurna, masih harus banyak memperbaiki dan membenahi lagi, terutama fasilitasi untuk teman-teman difabel,” tuturnya.

Baca Juga:UPTD PPA Ogah Disebut Ikut Manggung: Jangan Sampai Kasus Eksploitasi Anak Jadi Arena Saling KlaimHandphone dan Dua Akun Medsos Jadi Barang Bukti Kasus Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya

Diky menyebut keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus membagi perhatian dengan persoalan lain seperti stunting, kemiskinan, dan lansia.

Namun ia juga mengakui bahwa kelompok difabel belum mendapatkan porsi perhatian yang memadai.

Pemerintah, tambah Diky, berupaya membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, agar penyandang disabilitas tetap memiliki ruang bekerja dan beraktivitas.

Ke depan, ia berharap ada pelatihan keterampilan agar difabel memiliki kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi.

Di luar seremoni dan foto bersama, peringatan Hari Braille Sedunia di Kota Tasikmalaya meninggalkan satu catatan penting: perjuangan tunanetra bukan sekadar belajar membaca titik-titik timbul, tetapi tentang hak mengenali ruang, mengakses informasi, dan bergerak mandiri di kota sendiri.

Braille, dalam konteks ini, menjadi alat ukur paling sederhana—seberapa serius Kota Tasikmalaya benar-benar menghargai warganya yang paling jarang terlihat. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar