TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peringatan Hari Braille Sedunia di Kota Tasikmalaya kembali menyingkap ironi lama: kota terus tumbuh secara visual, tetapi lupa pada mereka yang membaca dunia lewat sentuhan.
Di tengah jargon inklusivitas yang kerap dipajang di spanduk acara, huruf Braille masih menjadi tamu asing di ruang-ruang publik.
Hari Braille Sedunia yang diperingati setiap 4 Januari tahun ini dirayakan di Kota Tasikmalaya pada Kamis (29/1/2026) di salah satu restoran cepat saji, dengan melibatkan 104 tunanetra dari berbagai SLB di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.
Baca Juga:UPTD PPA Ogah Disebut Ikut Manggung: Jangan Sampai Kasus Eksploitasi Anak Jadi Arena Saling KlaimHandphone dan Dua Akun Medsos Jadi Barang Bukti Kasus Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya
Tema global seperti Braille: Cahaya di Ujung Jari terasa kontras dengan kondisi lapangan: cahaya itu masih redup di kantor pemerintahan, sekolah, hingga fasilitas pelayanan masyarakat.
Guru SLBN Bungursari, Nabila, menyebut Braille hingga kini masih berada di pinggir perhatian publik.
Popularitasnya kalah jauh dibanding bahasa isyarat yang lebih sering muncul di layar televisi dan media sosial.
“Kalau Braille memang tidak se-famous bahasa isyarat yang mudah diakses teman-teman awam,” ujarnya.
Padahal, Braille memiliki kekuatan yang tak dimiliki bahasa lain: universal.
Huruf A tetap A, huruf B tetap B, tanpa perlu dialek atau terjemahan lintas negara.
Namun keunggulan itu belum cukup untuk membuat Braille hadir sebagai bagian wajar dari tata kota.
Menurut Nabila, minimnya papan informasi berbasis Braille di kantor pemerintahan dan fasilitas umum menjadi bukti bahwa aksesibilitas masih dianggap pelengkap, bukan kebutuhan dasar.
Baca Juga:Kuasa Hukum Korban Eksploitasi Anak Bongkar Fakta Lain: UPTD PPA Kota Tasikmalaya Tak Pernah DampingiKarena Endorse Rp500 Ribu! Kasus SL Menunggu P21: dari Konten ke Berkas Kejaksaan Kota Tasikmalaya
“Harapannya ke depan banyak fasilitas umum yang bisa di-upgrade. Mungkin bisa dimulai dari kantor-kantor. Jadi ada papan nama Braille yang menandakan ruangan ini apa,” katanya.
Ia menilai, tanpa penanda Braille, tunanetra masih harus bergantung pada orang lain hanya untuk mengenali ruang. Sebuah ironi di kota yang mengaku ramah semua warganya.
Tak hanya soal ruang fisik, keterbatasan literasi juga menjadi masalah serius.
Buku Braille jumlahnya terbatas, mahal, dan proses pengadaannya panjang.
Karena itu, Nabila mendorong alternatif akses audio sebagai solusi realistis.
“Kalau memang akses Braille masih sulit, ya dipermudah akses untuk audio. Karena teman-teman netra itu sensitifnya di perabaan dan pendengaran. Kalau tidak bisa diraba, ya bisa didengarkan,” terangnya.
