Ia menandaskan, hingga saat ini pasokan cabai di pasar masih kurang sehingga program pengembangan cabai dan tomat perlu terus diperluas.
“Sampai detik ini untuk cabai sendiri masih kurang di pasar, jadi harus dikembangkan lagi program camat-nya cabai dan tomat,” tandasnya.
Diky menyebut pola tanam yang diterapkan kelompok tani masih konvensional, namun didampingi penyuluh pertanian yang aktif. Ke depan, komoditas lain juga mulai dilirik.
Baca Juga:RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Belum Layani BPJS, Publik Menagih Janji Pelayanan KesehatanContent Creator Kota Tasikmalaya Jadi Tersangka Eksploitasi Anak, Usai Gelar Perkara Langsung Ditahan
“Pola tanam biasa, ada penyuluh yang aktif mendampingi. Iya… lagi mikirin buncis, tauge oge nih,” tuturnya.
Kunjungan tersebut menjadi simbol bahwa di Kota Tasikmalaya, ladang tak lagi identik dengan generasi lama.
Dari Bungursari, cabai merah bukan sekadar komoditas, tetapi tanda bahwa pertanian bisa menjadi panggung baru bagi kreativitas anak muda. (rezza rizaldi)
