Karena ternyata, tidak semua gaya layak dipertontonkan. Dan tidak semua popularitas siap menanggung konsekuensinya.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, memilih berdiri di titik yang tegas. Tidak berkelit. Tidak abu-abu.
Tidak ada ruang kompromi untuk kekerasan, eksploitasi, apalagi child grooming. Baik yang terjadi di gang sempit, ruang keluarga, maupun di panggung media sosial yang kerap dianggap dunia tanpa hukum.
Baca Juga:Wajah Baru Pengurus PAC PDIP Tamansari, Imam Mulyana Isi Kursi SekretarisKiai Miftah Fauzi Membaca Ulang Kota Tasikmalaya!
“Isu ini luar biasa di Kota Tasikmalaya. Pemerintah hadir untuk memfasilitasi pengaduan, melakukan pendampingan, dan mengawal proses hukum. Sikap kami jelas, zero tolerance. Kasus diserahkan sepenuhnya ke aparat penegak hukum,” ujar Viman, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, media sosial sering dianggap wilayah bebas. Bebas unggah. Bebas berpendapat. Bebas mengejar engagement. Padahal, kata Viman, regulasinya sudah jelas. Negara tidak absen.
Undang-Undang ITE sudah tersedia. Tinggal dipahami. Dan dipatuhi.
“Kami mengawal UU ITE dan akan menyosialisasikan lewat Diskominfo. Mana konten yang boleh, mana yang dilarang, itu harus jelas. Ruang media sosial harus jadi ruang nyaman, bukan arena bebas unggah tanpa etika,” ujarnya.
Ia bahkan menyindir fenomena akun-akun yang merasa kebal hukum. Posting sesuka hati. Mengabaikan hak orang lain. Tak peduli nama baik. Tak peduli dampak.
“Ini bukan hanya soal anak sebagai korban. Tapi soal bagaimana hukum hadir di ruang digital,” tegasnya.
Lalu muncul pertanyaan klasik: apakah pemerintah kecolongan? Viman menjawab dengan analogi sederhana: gunung es.
“Bukan kecolongan. Justru karena ada UPTD PPA, kasus-kasus sekarang terdeteksi. Dulu mungkin terlihat tidak ada, tapi ternyata di bawahnya banyak,” katanya.
Baca Juga:Gansa Persada MAN 1 Tasikmalaya Raih Juara 3 Paduan Suara Priangan TimurVonis Endang Juta Jauh dari Tuntutan, Kejati Jabar Ajukan Banding
Laporan yang meningkat, menurutnya, bukan tanda kasus bertambah. Tapi tanda keberanian masyarakat untuk bersuara. Tanda sistem mulai bekerja.
Yang menarik, Viman mengakui mengenal tersangka. Ia bagian dari komunitas anak muda kreatif. Influencer. Figur yang selama ini tampak biasa saja. Bahkan religius. Pernah umrah.
“Kaget, tidak menyangka. Kita tahunya kesehariannya biasa saja. Tapi ya, kita tidak pernah tahu sisi gelap seseorang. Everyone has a dark side,” ujarnya pelan.
