Logay, Nama yang Terlalu Banyak Gaya!

Sandi logay
Tersangka SL saat diperiksa polisi. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Nama itu kini lebih terkenal daripada alamat rumahnya sendiri. Logay.

Di Tasikmalaya, nama Logay mendadak jadi bahan obrolan. Di warung kopi. Di grup WhatsApp. Di kolom komentar. Bahkan di sudut-sudut satire yang biasanya hanya ramai saat musim politik.

Logay—dalam istilah Sunda—bisa dibaca sebagai loba gaya. Banyak gaya. Entah kebetulan. Entah memang takdir nama yang terlalu jujur pada pemiliknya.

Baca Juga:Wajah Baru Pengurus PAC PDIP Tamansari, Imam Mulyana Isi Kursi SekretarisKiai Miftah Fauzi Membaca Ulang Kota Tasikmalaya!

Pekan ini, Logay bukan lagi sekadar konten kreator. Ia telah resmi menyandang status tersangka.

Polres Tasikmalaya Kota menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan eksploitasi anak. Dugaan, tentu saja. Hukum tetap harus berjalan dengan kepala dingin.

Namun publik sudah terlanjur panas. Sebab Logay bukan figur sembarangan. Ia dikenal luas sebagai konten kreator yang rajin mengendorse apa saja: pelaku usaha, hiburan, kegiatan seremonial, bahkan pejabat. Kamera ponselnya akrab dengan senyum, panggung, dan tepuk tangan. Dunia digital adalah habitatnya.

Popularitasnya menanjak cepat. Terlalu cepat, mungkin. Nama Logay nyaris tak pernah absen dari linimasa warga Tasikmalaya.

Ada yang memujinya sebagai kreatif. Ada yang menganggapnya sekadar ramai. Tak sedikit pula yang kini mengolok-olok, menyulap namanya menjadi bahan satire. Dari loba gaya hingga kebablasan gaya.

Ia pernah pula terlibat dalam kegiatan buka puasa bersama di Jalan Sutsen, Kota Tasikmalaya. Sebuah acara yang saat itu tampak biasa saja. Ramai. Meriah. Penuh konten. Tapi kini, video kegiatan itu beredar kembali. Diputar ulang. Ditafsir ulang. Asumsi pun berlarian ke mana-mana.

Begitulah dunia konten. Sekali direkam, ia tak pernah benar-benar hilang. Kasus ini seolah menjadi pengingat, kreativitas tanpa rem bisa berubah jadi masalah.

Baca Juga:Gansa Persada MAN 1 Tasikmalaya Raih Juara 3 Paduan Suara Priangan TimurVonis Endang Juta Jauh dari Tuntutan, Kejati Jabar Ajukan Banding

Popularitas tanpa etika bisa menjadi bumerang. Kamera memang bisa mengangkat nama. Tapi kamera yang sama pula yang bisa menjatuhkannya.

Logay kini berada di persimpangan. Dari figur publik digital menjadi subjek hukum. Dari banyak gaya menjadi banyak tanya.

Tasikmalaya masih menyebut namanya. Tapi nadanya sudah berbeda. Lebih pelan. Lebih serius. Dan tentu saja—lebih penuh tanda tanya.

0 Komentar