Ketika Ledakan Kedai Kopi Terjadi di Kota Tasikmalaya, Sampah Plastik dan Kerja Inklusif Jadi Bahan Diskusi

diskusi sampah plastik kedai kopi di Kota Tasikmalaya
Founder Siloka Group, Arif Hidayat Putra, saat memberikan penjelasan konsep kedai kopi, Rabu (28/1/2026). Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya 
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah menjamurnya kedai kopi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, persoalan sampah plastik dan tenaga kerja inklusif ikut diseduh dalam sebuah forum diskusi di Kota Tasikmalaya.

Siloka Group menggelar forum bertajuk Siloka Berkawan, Rabu (28/1/2026), mempertemukan akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga media massa.

Isu yang dibicarakan bukan soal racikan kopi atau strategi promosi, melainkan dampak sosial dan lingkungan dari bisnis yang kian ramai di sudut-sudut kota.

Baca Juga:Mahasiswa Tuding Wali Kota Tasikmalaya Anti Kritik, Audiensi Molor Tanpa KepastianPetani Milenial Panen Cabai di Bungursari, Wakil Wali Kota Tasikmalaya: Harapan Baru dari Ladang Merah

Founder dan CEO Siloka Group, Arif Hidayat Putra, menyebut forum itu sebagai ruang bertukar gagasan, bukan ajang pamer kemitraan bisnis.

“Ini bukan kumpul-kumpul formal. Kita ingin ngobrol soal persoalan nyata dari aktivitas usaha, mulai dari sampah sampai pola kerja,” kata Arif.

Salah satu isu yang paling mengemuka adalah sampah plastik.

Arif mengungkapkan, Siloka menggandeng Bank Sampah untuk mengelola limbah dari outlet-outletnya agar tidak seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir.

“Insya Allah sampah dari outlet Siloka tidak sampai ke TPA Ciangir. Kita kelola, bahkan bisa jadi manfaat ekonomi untuk masyarakat yang mengelolanya,” terangnya.

Ia lalu menarik persoalan itu ke skala Kota Tasikmalaya.

Dengan jumlah kedai kopi yang diperkirakan mendekati 100 unit, produksi sampah plastik terjadi setiap hari—diam-diam, tapi terus menumpuk.

“Bayangkan saja, di Kota Tasikmalaya itu tidak kurang dari 100 kedai kopi. Setiap hari pasti menghasilkan sampah plastik,” bebernya.

“Kalau semua kedai bisa kelola sampahnya dengan baik, itu sudah menghasilkan nilai ekonomi untuk masyarakat,” lanjut Arif.

Tak hanya soal lingkungan, diskusi juga menyoroti inklusivitas tenaga kerja.

Baca Juga:RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Belum Layani BPJS, Publik Menagih Janji Pelayanan KesehatanContent Creator Kota Tasikmalaya Jadi Tersangka Eksploitasi Anak, Usai Gelar Perkara Langsung Ditahan

Siloka bekerja sama dengan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan melibatkan penyandang disabilitas dalam aktivitas kerja sehari-hari.

“Kenapa kopi Siloka harus inklusif? Karena di setiap potret Siloka, selalu ada kawan-kawan ABK yang bekerja,” jelas Arif.

Ia menjelaskan, karyawan Siloka berasal dari berbagai latar belakang disabilitas.

“Ada yang menggunakan bahasa isyarat, ada yang tuli, ada juga yang tunadaksa,” katanya.

0 Komentar