Menurutnya, tugas pemerintah adalah memberi dukungan moral agar para pelaku seni percaya diri membawa identitas daerah.
“Walaupun bukan dalam bentuk anggaran, minimal kita hadir, menyemangati. Orang tua mereka di pemerintahan tidak duduk diam,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan utama seni bukan hanya teknik, melainkan ketulusan ekspresi.
Baca Juga:DPRD Sentil Inspektorat Kota Tasikmalaya: Pengawasan Itu Bukan Seni Salah PahamDugaan Child Grooming Content Creator Menggema di Kota Tasikmalaya, RKI: Anak Bukan Bahan Konten
Menurut Diky, seni yang ditampilkan dengan ekspresi jujur akan lebih kuat dibanding sekadar mengejar popularitas.
“Keyword-nya itu kekompakan dan ekspresi. Karya seni yang lahir dari ketulusan biasanya punya nilai lebih. Tasik ini seperti episentrum, punya jiwa seni yang luar biasa tinggi,” katanya.
Dengan modal budaya lokal dan pengalaman tampil di luar negeri, kontingen Sanggar Dewa Motekar diharapkan kembali menjadi duta seni Kota Tasikmalaya yang tidak sekadar tampil, tetapi juga meninggalkan kesan di panggung dunia. (rezza rizaldi)
