Jika Bukan kepada Wali Kota Tasikmalaya, Guru Harus Mengadu ke Siapa?

aspirasi guru honorer Kota Tasikmalaya ke wali kota
Aksi ratusan guru di depan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (26/1/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Tapi bukankah di zaman digital ini, komunikasi tidak harus selalu bertatap muka? Bukankah wali kota sering berbicara soal kemudahan, kecepatan, dan lompatan zaman?

Zoom ada. Video call tersedia. Bahkan sekadar rekaman video pun bisa.Namun semua itu terasa sulit dilakukan.

Entah karena apa. Entah karena terlalu sibuk dengan urusan seremonial. Atau karena memang tidak cukup berani untuk berdiskusi langsung dengan para guru.

Baca Juga:Kasus “Pacar Bayaran” Anak di Kota Tasikmalaya Mengarah ke Eksploitasi, Polisi Siapkan Gelar PerkaraTanpa BPJS, RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Terancam Cepat Bangkrut Diterpa Krisis Kepercayaan Publik 

“Kami ini bukan penjahat,” kata salah satu guru. “Kami tidak ingin mengancam, meminta, atau mengintimidasi. Kami hanya ingin didengar. Dan mencari solusi bersama.”

Pertanyaannya sederhana tapi menohok: kalau bukan kepada wali kota, kepada siapa lagi aspirasi ini disampaikan?

Wali kota dipilih langsung oleh rakyat. Dan dari ribuan guru itu, bisa dipastikan ada yang mencoblos namanya di Pilkada 2024.

Maka mengapa harus sesulit ini berkomunikasi? Bahkan jika sejak awal ada ruang dialog, mungkin para guru itu tidak perlu berdiri di bawah terik matahari. Tidak perlu meninggalkan kelas. Tidak perlu meninggalkan murid.

Di tempat lain, Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia juga mencatat hal serupa.

Minimnya kehadiran wali kota dalam agenda-agenda masyarakat strategis dinilai bukan sekadar soal jadwal. Tapi soal makna kepemimpinan yang hadir.

Menurut Ketua PGM Kota Tasikmalaya, Asep Rizal Asyari, kehadiran pemimpin di ruang publik adalah simbol empati. Penguat moral. Tanda bahwa pemerintah dan masyarakat masih berada di jalur yang sama.

Tanpa itu, yang muncul adalah jarak. Jarak psikologis. Jarak emosional.

Baca Juga:Kontingen Seni Kota Tasikmalaya Tantang 20 Negara di Thailand, Diky Candra: Berani Tampil TulusDPRD Sentil Inspektorat Kota Tasikmalaya: Pengawasan Itu Bukan Seni Salah Paham

PGM pun menyinggung kemungkinan lain, jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada wali kota, tapi juga pada orang-orang di sekelilingnya. Pada staf. Pada tim.

Pada penyaring informasi yang menentukan mana agenda penting dan mana yang bisa diabaikan.

Jika informasi tidak sampai, terlambat, atau tidak dianggap prioritas, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya figur di depan, tapi juga barisan di belakangnya.

Kritik ini, kata PGM, bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan.

Sebab kepemimpinan bukan hanya soal visi besar. Bukan hanya soal lari pagi di jalanan kota.

0 Komentar