Tiga Gunung di Kota Tasikmalaya Dikeruk, Tambang Bungursari Minim Izin dan Pengawasan

tiga gunung dikeruk di Kota Tasikmalaya
Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Fraksi PDI-Perjuangan, Kepler Sianturi, saat menyidak aktivitas galian tambang pasir di Bungursari, Senin (26/1/2026). Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Aktivitas galian batu dan pasir di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, ternyata jauh dari kata kecil-kecilan.

Bukan satu bukit, melainkan tiga gunung dilaporkan dikeruk bersamaan, dengan lebih dari satu alat berat di setiap lokasi.

Pemandangan ini membuat Bungursari bak kawasan industri ekstraksi terbuka, bukan lagi perbukitan hijau.

Baca Juga:Dugaan Child Grooming Content Creator Menggema di Kota Tasikmalaya, RKI: Anak Bukan Bahan Konten Kasus Konten Viral di Tasikmalaya Masuk Pendalaman, Polisi: Terlapor Akui Posting Video Seragam Sekolah

Data yang dihimpun dari pihak kecamatan menguatkan dugaan bahwa aktivitas tambang berlangsung secara intensif dan sistematis.

Volume material yang diangkut keluar wilayah diperkirakan besar dan berkelanjutan, sementara pengawasan dan kejelasan izin justru tertinggal jauh di belakang laju ekskavator.

Kasi Trantib Kecamatan Bungursari, Fahrizal Syamsudin, mengakui pendataan aktivitas galian masih jauh dari lengkap.

Dari sekian lokasi, hanya satu titik yang tercatat memiliki izin, itu pun sudah kedaluwarsa sejak 2025.

“Gunung ada tiga, dan di satu gunung itu ada beberapa alat berat. Tapi yang tercatat berizin hanya satu, di Citerewes Gunung Gede, dan izinnya sudah habis. Sisanya banyak yang mengatasnamakan perataan atau reklamasi, bukan galian,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (26/1/2026).

Istilah perataan dan reklamasi pun menjadi semacam kata kunci administratif agar aktivitas pengerukan tetap berjalan, meski secara kasat mata tampak seperti tambang aktif dengan ritme produksi harian.

Dampak fisik mulai dirasakan warga di sejumlah jalur utama seperti Cibeureum, Cibengkok, dan Cipetey.

Baca Juga:Pelayanan Umum Jalan, Pasien BPJS Tertahan: RS Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Diduga Terjebak PolemikInspektur Kota Tasikmalaya Baru Tahu Pola “Mediasi” Usai Pemeriksaan: Jika Tak Bersalah, Tak Perlu Dibereskan

Truk pengangkut material lalu-lalang tanpa jeda, menyebabkan kerusakan jalan dan meninggalkan material tercecer di badan jalan.

Risiko kecelakaan meningkat, sementara lereng perbukitan yang dikeruk tanpa reklamasi menyisakan ancaman longsor, terutama saat musim hujan.

Persoalan tidak berhenti di Bungursari. Jalur distribusi material melewati wilayah Sukalaksana dan bahkan melibatkan kendaraan dari luar kabupaten.

Infrastruktur jalan yang semula dirancang untuk kendaraan ringan kini dipaksa menanggung beban tonase berat setiap hari.

Pihak kecamatan mengaku sudah berkirim surat ke Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUTR, dan Dinas Perhubungan, serta menggelar audiensi dengan pengelola tambang, masyarakat, dan OPD terkait sejak 2025.

Namun di lapangan, aktivitas tetap berjalan seolah tak tersentuh rem kebijakan.

0 Komentar