RADARTASIK.ID – Juventus tampil terlalu kuat bagi Napoli yang datang ke Turin dalam kondisi pincang.
Kemenangan telak 3-0 bukan sekadar hasil besar di papan skor, tetapi juga penanda simbolik bahwa tim asuhan Antonio Conte harus mengucapkan selamat tinggal pada mimpi Scudetto musim ini.
Dalam analisisnya di Calciomercato, jurnalis Italia Sandro Sabatini menegaskan bahwa Juventus layak memetik tiga poin dalam laga tersebut.
Baca Juga:AS Roma vs AC Milan: Reuni Malen dan Fullkrug yang Hampir Raih Gelar Liga ChampionsCafu: AC Milan Bisa Memenangkan Liga Champions, AS Roma Akan Meraih Scudetto
“Juventus terlalu kuat untuk Napoli yang datang dalam kondisi pincang. Tim asuhan Conte harus mengucapkan selamat tinggal pada Scudetto,” tulis Sabatini dalam analisisnya di Calciomercato.
Napoli sejatinya masih bertahan di dalam laga selama 77 menit, hingga gol kedua Kenan Yildiz mematahkan harapan kebangkitan tim tamu.
Momen itu terasa pahit bagi Conte. Tepat sebelum gol Yildiz, sang pelatih Napoli sebenarnya telah menyiapkan kartu truf: Romelu Lukaku.
Penyerang asal Belgia itu direncanakan masuk untuk mengejar gol penyama kedudukan.
Namun kenyataan berkata lain. Lukaku akhirnya masuk hanya untuk menyaksikan Juventus merayakan kemenangan.
“Alih-alih mengubah jalannya laga, Lukaku masuk hanya untuk merayakan sebuah kemenangan—kemenangan Juventus asuhan Spalletti,” tulis Sabatini, dengan nada ironis.
Sebuah keberhasilan yang oleh Sabatini disebut sebagai “kesuksesan Spalletti”, karena membawa Juventus kembali memandang klasemen dengan ambisi besar, sesuatu yang kini justru menjauh dari Napoli.
Baca Juga:Siapa Raffaele Huli? Pemain Primavera Juventus yang Dibawa Spalletti Melawan NapoliJuventus Ultimatum En-Nesyri, Siapkan Striker Idaman AS Roma Sebagai Pengganti
Juventus, meski masih tertinggal 10 poin dari Inter Milan, menunjukkan grafik menanjak yang jelas.
Masa depan tampak cerah, fondasi permainan semakin kokoh. Sebaliknya, Napoli justru terlihat rapuh.
Walau jarak mereka dengan Inter “hanya” sembilan poin, Sabatini menilai rasa takut Napoli bukan pada jarak itu sendiri, melainkan pada kemungkinan bahwa masa-masa sulit justru belum berakhir.
Namun, Sabatini juga menggarisbawahi satu catatan penting: Napoli memiliki alasan kuat untuk memprotes kepemimpinan wasit Mariani.
Pada babak pertama, ada insiden antara Bremer dan Hojlund dinilai ditangani secara terlalu dangkal.
Andai penalti diberikan, tak akan ada skandal. Bahkan, keputusan tersebut bisa dianggap wajar.
Lebih mengherankan lagi, VAR tidak melakukan peninjauan, meski tanpa kewajiban formal. Sebuah pengecekan tambahan, menurut Sabatini, sangat layak dilakukan.
