Hubungan emosional dengan pemain, konteks budaya lokal, serta kondisi fisik dan mental skuad dianggap kurang mendapat perhatian.
Pemecatan di Sochi menambah daftar perjalanan karier Moreno yang belakangan tak stabil.
Setelah berpisah dari Luis Enrique dan memulai karier sebagai pelatih kepala, Moreno sempat menangani AS Monaco, Granada, hingga Real Sociedad.
Baca Juga:Ambrosini Kritik Penyerang AC Milan Saat Lawan AS Roma: Mereka Selalu Diselamatkan MaignanJurnalis Italia Tuding Sindiran Fabregas ke Allegri Salah Alamat: Sepak Bola Bukan Hanya Soal Main Cantik
Di Sociedad, ia dipecat pada September lalu setelah tim terpuruk di dasar klasemen.
Meski begitu, rekam jejak Moreno tetap menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih modern.
Ia mengantongi Lisensi Pro UEFA, dikenal menyukai formasi 4-3-3 menyerang, dan memiliki latar belakang taktik yang kuat. Namun kisah di Rusia menjadi peringatan bahwa sepak bola, secanggih apa pun teknologinya, tetaplah olahraga manusia.
Kasus ini memicu perdebatan luas di Eropa. Di satu sisi, penggunaan data dan AI semakin tak terpisahkan dari sepak bola modern.
Di sisi lain, terlalu menyerahkan keputusan pada algoritma bisa menjadi bumerang, terutama dalam lingkungan yang menuntut empati, intuisi, dan kepemimpinan langsung.
Robert Moreno, pria kelahiran Barcelona, 19 September 1977, kini kembali menjadi sorotan—bukan karena prestasi, melainkan karena dianggap sebagai pelatih pertama yang “kalah” oleh ChatGPT di ruang ganti.
Sebuah cerita absurd, namun sangat relevan di era sepak bola digital.
Baca Juga:Komisi Agen Salah Satu Penyebab Juventus Batal Rekrut En-NesyriAS Roma Gagal Kalahkan AC Milan: Inter dan Juventus Tersenyum Lebar
Rekam Jejak Robert Moreno
Robert Moreno González bukan nama asing di lingkaran elite sepak bola Eropa, meski jarang tampil di garis depan sorotan.
Pria kelahiran Barcelona, 19 September 1977, ini dikenal luas sebagai salah satu “otak taktik” di balik kesuksesan Luis Enrique, khususnya pada periode emas Barcelona dan tim nasional Spanyol.
Moreno memulai reputasinya sebagai analis dan asisten pelatih dengan pendekatan modern: berbasis data, video analisis, dan struktur permainan posisi.
Ia mengantongi Lisensi Pro UEFA dan konsisten mengusung filosofi sepak bola menyerang dengan formasi favorit 4-3-3 Attacking.
Namanya mulai dikenal publik Italia saat menjadi bagian dari staf Luis Enrique di AS Roma pada musim 2011/2012.
Meski proyek Roma berakhir tanpa trofi dan penuh kritik, pengalaman tersebut justru menjadi laboratorium awal bagi ide-ide taktik yang kemudian matang di Barcelona.
