Di sinilah Allegri masuk dengan pendekatan berbeda: bukan untuk “menyamai” Como dalam bermain cantik, tetapi untuk memaksimalkan kelemahan lawan dan mengamankan hasil.
Menurut Distaso, Fabregas keliru ketika mengarahkan kritiknya kepada Allegri atau pelatih lain yang memilih jalan pragmatis.
Pasalnya, Fabregas sendiri—meski dikenal sebagai penganut sepak bola dominatif—pada dasarnya juga seorang “risultatista”.
Baca Juga:AS Roma Gagal Kalahkan AC Milan: Inter dan Juventus Tersenyum LebarDaftar Pemain Juventus yang Dipuji Jurnalis Italia Usai Tekuk Napoli 3-0: David Buat Nyonya Tua Busungkan Dada
Ia bermain dengan cara yang ia yakini paling efektif untuk mencapai tujuan, yakni meraih kemenangan.
Logika ini sama persis dengan yang dipegang Allegri, hanya saja jalannya berbeda.
Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan sepak bola dimainkan dengan satu gaya tertentu.
Tidak semua tim harus menekan tinggi, mendominasi penguasaan bola, atau bermain terbuka karena sepak bola adalah soal adaptasi terhadap konteks, pemain, dan situasi.
Pelatih dinilai bukan dari seberapa indah idenya di atas kertas, melainkan seberapa efektif ia menerjemahkan ide itu ke dalam performa tim.
Distaso juga menyoroti kecenderungan sebagian kalangan untuk “menghakimi” pemenang.
Jika tim yang bermain menyerang dipuji meski kalah, sementara tim yang menang dengan cara pragmatis direndahkan, maka hal ini menjadi timpang.
Baca Juga:Sandro Sabatini: Juventus Singkirkan Napoli dari Persaingan ScudettoAS Roma vs AC Milan: Reuni Malen dan Fullkrug yang Hampir Raih Gelar Liga Champions
Kemenangan karena keberuntungan bisa terjadi sekali dua kali, tetapi dalam jangka panjang, tim yang konsisten menang hampir selalu memiliki dasar yang kuat.
“Kelompok “pecinta permainan indah” kerap mengeluhkan bahwa analisis pascalaga di Italia terlalu berorientasi pada hasil akhir dan kurang menggali kualitas tim yang kalah,” tulis Distaso.
“Namun hal itu tidak serta-merta membenarkan upaya “mendemonisasi” tim yang menang dengan pendekatan pragmatis,” lanjutnya.
Kemampuan Allegri memaksimalkan sumber daya yang ada menjadi contoh nyata.
Mengeluarkan performa maksimal dari pemain veteran, meningkatkan soliditas lini belakang yang sebelumnya rapuh, hingga membentuk keseimbangan tim bukanlah hal sepele.
Itu adalah kerja taktis dan manajerial yang layak dihargai, bukan dicap sebagai sepak bola “tidak bermoral”.
Pada akhirnya, jurnalis Italia menilai kemarahan Fabregas lebih mencerminkan frustrasi atas hasil, bukan ketidakadilan sepak bola.
