RADARTASIK.ID – Polemik soal filosofi permainan kembali memanas di Serie A musim ini.
Hal ini dipicu oleh pernyataan Cesc Fabregas usai kekalahan Como dari AC Milan memicu perdebatan luas.
Pelatih muda asal Spanyol itu menyinggung pendekatan “risultatista” Massimiliano Allegri, seolah menyiratkan bahwa kemenangan Rossoneri datang lebih karena hasil akhir ketimbang kualitas permainan.
Baca Juga:AS Roma Gagal Kalahkan AC Milan: Inter dan Juventus Tersenyum LebarDaftar Pemain Juventus yang Dipuji Jurnalis Italia Usai Tekuk Napoli 3-0: David Buat Nyonya Tua Busungkan Dada
“Risultatista” adalah istilah dalam sepak bola Italia yang merujuk pada pelatih atau tim yang mengutamakan hasil akhir (menang, seri, lolos) dibandingkan keindahan permainan.
Namun bagi sejumlah jurnalis Italia, termasuk Andrea Distaso dari Calciomercato, kemarahan Fabregas dinilai salah alamat.
Dalam analisisnya, Distaso menegaskan bahwa kritik berlebihan terhadap Allegri dan pendekatan pragmatis Milan lebih banyak lahir dari prasangka lama.
Prasangka yang kerap mengabaikan satu aspek fundamental dalam sepak bola: karakteristik pemain yang dimiliki seorang pelatih.
Sepak bola, menurutnya, bukan laboratorium ideal tempat semua tim bisa bermain dengan gaya yang sama.
Perdebatan soal “cara bermain yang benar” memang menjadi fenomena khas Italia.
Di liga-liga top Eropa lain, diskursus filosofi jarang mencapai tingkat ekstrem seperti di Serie A.
Baca Juga:Sandro Sabatini: Juventus Singkirkan Napoli dari Persaingan ScudettoAS Roma vs AC Milan: Reuni Malen dan Fullkrug yang Hampir Raih Gelar Liga Champions
Dalam beberapa musim terakhir, perdebatan ini bahkan merembes ke ruang ganti, dengan para pelatih saling melempar sindiran melalui media.
Istilah risultatismo pun kembali naik daun, seolah menjadi label negatif bagi siapa pun yang menang tanpa mendominasi permainan secara estetis.
Dalam konteks ini, Fabregas menilai Milan tidak layak menang karena Como dianggap bermain lebih baik.
Namun Distaso melihat sudut pandang tersebut terlalu menyederhanakan kompleksitas sepak bola Italia.
Como memang dipuji sebagai proyek segar Serie A: klub kecil dengan ide besar, sepak bola agresif, dan identitas jelas.
Di bawah Fabregas, Como memainkan permainan ambisius, menuntut fisik tinggi, serta keberanian dalam menguasai bola.
Namun, ambisi itu juga memiliki konsekuensi. Minimnya pengalaman membuat Como rentan saat menghadapi lawan yang lebih matang secara taktis.
Kesalahan kecil bisa berujung fatal, dan di Serie A, lawan tak akan ragu mengeksploitasi celah tersebut.
