Kiai Miftah Fauzi Membaca Ulang Kota Tasikmalaya!

MIFTAH FAUZI
KH. TB. Miftah Fauzi.
0 Komentar

“Pemerintah itu bisa benar, tapi kalau komunikasinya salah, tetap dianggap salah,” kira-kira begitu intinya.

Ia menekankan pentingnya membuka dialog dengan publik dan tokoh-tokoh lokal. Sebab kebijakan, sebaik apa pun, akan diterima jika dijelaskan dengan baik.

Ia lalu masuk ke soal jejaring kekuasaan. Pemerintahan Kota Tasikmalaya saat ini, kata dia, seharusnya mendapat dukungan lebih dari pusat.

Baca Juga:Gansa Persada MAN 1 Tasikmalaya Raih Juara 3 Paduan Suara Priangan TimurVonis Endang Juta Jauh dari Tuntutan, Kejati Jabar Ajukan Banding

“Kan satu partai, satu napas, satu kebijakan. Idealnya mempermudah langkah,” ujarnya.

Apalagi, tambahnya, Viman–Diky di-back up langsung oleh H Amir Mahpud, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat. Yang kebetulan adalah paman dari Viman sendiri.

Tentang H Amir, Kiai Miftah berbicara tanpa ragu.

“Beliau itu tidak mencla-mencle. Tidak abu-abu. Saklek,” katanya tegas.

“Jadi Viman–Diky tinggal kerja sesuai aturan main. Tidak perlu trio-trio. Cukup Pak Amir saja. Beres.”

Ia juga menyinggung kedekatan H Amir Mahpud dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Kedekatan yang bukan baru kemarin sore. Sudah terbangun sejak lama—sekitar awal 2010-an.

Karena itu, menurut Kiai Miftah, jejaring politik sebenarnya sudah “selesai”. Tinggal soal penegasan, pengawasan, dan keberanian mengeksekusi kebijakan.

Kami hampir lima tahun tidak bertemu. Terakhir kali, ia masih sibuk di dunia politik. Pernah menjadi Ketua PAN Kota Tasikmalaya. Bahkan pernah menjadi juru bicara pemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2014.

Baca Juga:Wakil Bupati Tasikmalaya dan Permintaan Secepat Kedipan Mata!Ketika Wapres RI Gibran ke Kota Tasikmalaya, yang Pulang Hanya Foto!

Tidak semua kiai berani mengambil posisi seterang itu. Tapi Kiai Miftah Fauzi memang kiai yang unik. Berani. Tegas. Dan ini yang jarang konsisten soal kemanusiaan. Baginya, manusia lebih dulu dari jabatan. Nurani lebih penting daripada kalkulasi.

Kiai Miftah lahir di Pandeglang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Bidayatul Hikmah Cibatu Garut. Pernah menjadi komisaris di lima perusahaan multinasional, dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan. Lalu berhenti. Memilih jalan dakwah.

Kini ia memimpin Majelis Almuzzani Sholawat Wabarik, aktif membangun pesantren, menjalin hubungan antarpesantren besar di Tasikmalaya, dan terus berbicara soal kepemimpinan—bukan dari mimbar kekuasaan, tapi dari mimbar nurani.

0 Komentar