TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Malam itu acaranya resmi. Tapi tidak kaku. Meja panjang, kursi rapi, tapi tawa masih boleh muncul. Di Kota Tasikmalaya, tepatnya di gedung Graha Plaza Asia. Suasana seperti itu lazim, serius seperlunya, santai secukupnya.
Saya duduk di satu meja yang isinya bukan orang sembarangan. Ada Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra. Ada pengusaha senior H Asep Sepadan dan H Yayat. Ada pula Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H Budi Mahmud Saputra, yang sebentar lagi akan memimpin DPD PAN Kota Tasikmalaya.
Dan tentu saja, di ujung meja itu, duduk seorang yang membuat percakapan langsung punya bobot: KH. TB. Miftah Fauzi.
Baca Juga:Gansa Persada MAN 1 Tasikmalaya Raih Juara 3 Paduan Suara Priangan TimurVonis Endang Juta Jauh dari Tuntutan, Kejati Jabar Ajukan Banding
Ia datang ke acara itu dengan jasko rapi dan kopiah hitam. Tanpa sorban. Tidak seperti penampilan khasnya selama ini. Lebih mirip negarawan ketimbang penceramah mimbar.
Kami berbincang lama. Panjang. Dan untuk ukuran forum publik cukup intim. Topiknya satu: Kota Tasikmalaya.
Suara khasnya masih sama. Jelas, tegas, lantang. Suara yang tidak meminta didengar, tapi memaksa orang menyimak. Di Tasikmalaya, bahkan di Jawa Barat, suara itu sudah lama dikenal. Bukan karena kerasnya, tapi karena keyakinan di baliknya.
Kami berdiskusi agak serius malam itu. Tentang banyak hal. Tentang manusia. Tentang keberpihakan. Tentang bagaimana agama seharusnya berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk kepentingan.
Cerita mengalir dari masa lalu. Dari awal mula Kiai Miftah datang ke Tasikmalaya. Dari fase hidupnya saat masuk politik praktis. Hingga saat ia memilih kembali sepenuhnya ke jalur dakwah—berkeliling dari satu kota ke kota lain, dari satu pelosok ke pelosok lain di Indonesia.
Sesekali tawa pecah. Kiai Miftah, dengan gaya khasnya, melempar guyonan ke arah Diky Candra.
“Fokus ngawal perintah Wali Kota, ya,” katanya.
Lalu berhenti sejenak.
“Tapi jangan dipaksakan. Nanti kena TBC. Banyakin vitamin C.” Meja tertawa. Tapi pesan sampai.
Baca Juga:Wakil Bupati Tasikmalaya dan Permintaan Secepat Kedipan Mata!Ketika Wapres RI Gibran ke Kota Tasikmalaya, yang Pulang Hanya Foto!
Di balik candanya, Kiai Miftah bicara serius soal peluang pemerintahan Viman–Diky. Menurutnya, peluang itu masih sangat terbuka lebar. Syaratnya satu: komunikasi.
