TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kota Tasikmalaya kembali masuk radar kompetisi e-sport nasional.
Ajang Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Spring City Qualifier Tasikmalaya digelar di Kopi Siloka, Kecamatan Indihiang, Minggu (25/1/2026), dengan diikuti 96 tim dari berbagai wilayah.
Ketua Komunitas Free Fire Tasikmalaya, Shanaz Insani, mengatakan turnamen ini bukan kali pertama digelar di Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Gerakan Kader Bugar PKS Kota Tasikmalaya: Sehat Fisik Jadi Modal Kerja SosialDari Lahan ke Harapan: Regenerasi Petani Muda Menguat di Kota Tasikmalaya
“Ini sudah yang ketiga kalinya. Setiap tahun Garena menunjuk region Tasikmalaya untuk menggelar kualifikasi resmi,” ujarnya.
Menurut Shanaz, FFNS merupakan ajang berjenjang dari tingkat regional hingga nasional.
Tim yang menjadi juara di Kota Tasikmalaya akan kembali bertanding melawan perwakilan daerah lain se-Indonesia.
“Nanti yang juara di sini akan masuk ke tingkat nasional. Satu tim berisi lima pemain, dan hari ini ada 96 tim yang bertanding,” katanya.
Jumlah peserta tahun ini diakui dia menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 120 tim.
Shanaz mengakui hal itu dipengaruhi penyebaran informasi yang cukup mendadak.
“Ada penurunan karena sosialisasi posternya agak mendadak. Tapi 96 tim tetap lumayan,” ucapnya.
Pertandingan berlangsung satu hari penuh dengan sistem gugur. Dalam satu match, 12 tim bertanding sekaligus.
Baca Juga:Banjir, Retorika dan Ambisi Dedi Mulyadi Menuju Tahun 2029!Kasus Konten Kreator Viral Diseret ke Polisi, Kuasa Hukum Laporkan Dugaan Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya
“Jadi satu pertandingan diisi 12 tim atau 60 pemain. Sistemnya gugur langsung, supaya cepat selesai,” jelas Shanaz.
Ia berharap dari ajang ini muncul tim asal Kota Tasikmalaya yang mampu menembus level nasional bahkan internasional.
“Harapan kami, ada tim Tasikmalaya yang bisa sampai ke panggung besar Garena, bahkan internasional,” katanya.
Sementara itu, Esport Caster Nasional Garena Free Fire, Bigan, menekankan bahwa karier di dunia e-sport tidak hanya soal menjadi pemain.
“Esport itu bukan cuma player. Bisa jadi caster, kameramen, organizer, atau di bidang multimedia dan IT. Yang penting tahu mau ke mana arahnya,” tuturnya.
Bigan juga menyebut Kota Tasikmalaya sudah punya satu pemain yang menembus level internasional.
“Sudah ada satu player asal Tasikmalaya, namanya Drian, yang main sampai Malaysia. Harapannya dia bisa jadi role model. Kenapa cuma satu? Kalau bisa satu tim,” katanya.
