Saat Musik Tak Lagi Sekadar Hiburan, Terapi Laras Jiwa Menyentuh Batin di Kota Tasikmalaya

terapi musik Laras Jiwa di Kota Tasikmalaya
Diseminasi Musik Terapi Laras Jiwa oleh Yayasan Asta Mekar di Kebon Djati Earty Kota Tasikmalaya, Kamis (22/1/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

“Ini juga ingin mematahkan stigma bahwa kesenian selesai di panggung. Ada nilai lain yang langsung menyentuh tubuh dan batin manusia,” terangnya.

Salah seorang peserta undangan, Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Komisi IV, Habib Qosim Nurwahab, mengaku merasakan langsung pengalaman batin selama mengikuti terapi.

Ia menyebut Laras Jiwa membawanya pada ruang kesadaran terdalam.

“Seakan-akan blank. Tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa. La haula wala quwwata illa billah,” ucapnya.

Baca Juga:Dishub Kota Tasikmalaya Kumpulkan Jukir, Tegaskan Karcis Parkir Wajib Diserahkan Tanpa DimintaKonten Pacar Bayaran di Kota Tasikmalaya Meresahkan! Objeknya Siswi, Diberi Rp 100 Ribu Plus Jajan

Habib Qosim bahkan menilai terapi semacam ini tak hanya penting bagi pelajar atau mahasiswa, tetapi juga relevan—bahkan perlu—bagi para pejabat publik.

“Pejabat itu justru wajib. Ini soal refresh otak dan mental. Banyak penyakit, termasuk penyalahgunaan jabatan, itu bukan karena rokok atau kopi, tapi karena kesehatan mental yang rusak,” tambahnya.

Ia menautkan pengalaman Laras Jiwa dengan konsep Tri Tangtu Buana dalam kearifan Sunda—dunia bawah, tengah, dan atas—serta perjalanan spiritual dalam ajaran agama dari syariat hingga makrifat.

Diseminasi Laras Jiwa di Kota Tasikmalaya ini menegaskan satu pesan: ketika kegelisahan makin tak terucap, seni tradisi bisa menjadi bahasa lain untuk memulihkan. Pelan, tapi menyentuh. (rezza rizaldi)

0 Komentar