TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di bawah rindang pepohonan Kebon Djati Earty, Kamis (22/1/2026), alunan musik tradisi tak sekadar diperdengarkan. Ia diposisikan sebagai ruang pemulihan.
Yayasan Asta Mekar mendiseminasikan Terapi Musik Laras Jiwa, sebuah pendekatan seni yang dirancang untuk merespons kegelisahan mental yang kian terasa, terutama di kalangan generasi muda Kota Tasikmalaya.
Kegiatan ini diikuti berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, seniman, akademisi, hingga pejabat daerah.
Baca Juga:Dishub Kota Tasikmalaya Kumpulkan Jukir, Tegaskan Karcis Parkir Wajib Diserahkan Tanpa DimintaKonten Pacar Bayaran di Kota Tasikmalaya Meresahkan! Objeknya Siswi, Diberi Rp 100 Ribu Plus Jajan
Musik tak diperlakukan sebagai hiburan panggung, melainkan sebagai medium terapi—pelan, berlapis, dan penuh jeda.
Ketua Pembina Yayasan Asta Mekar, Tomi Ahmad Saputra, menjelaskan bahwa gagasan Laras Jiwa lahir sejak 2020, berangkat dari keresahan yang muncul saat pandemi Covid-19.
Saat itu, ia melihat perubahan signifikan pada kondisi psikologis mahasiswa, khususnya generasi kelahiran 2000 ke atas.
“Di kepala mereka itu sangat kalut, carut-marut. Ada kegelisahan yang tidak selalu punya nama, tapi terasa nyata,” ujarnya.
Berangkat dari situ, Asta Mekar mencoba memosisikan seni tradisi sebagai alat yang memberi dampak langsung bagi kesehatan manusia.
Terapi Laras Jiwa kemudian dikembangkan berbasis musik tradisi Sunda, yang akarnya bersumber dari Calung Tarawangsa warisan Abah Oman dari Kabupaten Tasikmalaya.
Empat laras dipilih dan diriset secara mendalam, yakni Madenda, Salendro, Degung, serta Laras Lindu, laras khas Tasikmalaya.
Baca Juga:Dari Karcis hingga Digitalisasi, Penataan Parkir di Kota Tasikmalaya Terus DikajiParkir Berkarcis di Kota Tasikmalaya Masih Setengah Hati, Kata Praktisi Hukum: Dishub Banyak Retorika
Proses penciptaannya tidak singkat. Selain riset musikal, Asta Mekar juga melibatkan tenaga medis dan pendekatan hipnoterapi untuk memastikan musik bekerja sesuai konteks terapi, bukan sekadar estetika.
“Kami menurunkan tempo, mengubah cara memukul instrumen, sampai empat kali revisi. Karena transfer energi dalam terapi itu berbeda dengan panggung hiburan,” kata Tomi.
Rangkaian terapi berlangsung sekitar 40 menit, mengikuti kaidah hipnosis klinis.
Peserta diajak melewati proses penyucian indra, melepas alas kaki, hingga bersentuhan langsung dengan tanah sebagai bagian dari earthing therapy.
Hingga saat ini, Laras Jiwa telah dijalankan selama setahun sebagai bagian dari program Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kategori penciptaan karya kreatif inovatif.
Meski belum diklaim sebagai metode penyembuhan penuh, Tomi menyebut telah muncul percikan kecil pengakuan medis bahwa seni tradisi memiliki manfaat bagi kesehatan mental.
