Konten tersebut menuai kecaman karena melibatkan pelajar dan dinilai tidak mendidik, bahkan berpotensi melanggar hukum.
Meski video aslinya telah dihapus, jejak digitalnya terlanjur beredar ulang di media sosial X dan memantik reaksi keras warganet.
Konten itu menampilkan seorang kreator mengajak siswi untuk “berpacaran” selama satu jam dengan imbalan uang.
Baca Juga:DPRD Mendesak, Dalih Dinkes Berproses: RS Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Belum Layani BPJSMiss Komunikasi Birokrasi Berulang, Kata DPRD: Jaga Wibawa Kepala Daerah Kota Tasikmalaya
Sejumlah pihak, termasuk aktivis perempuan dan anak, menilai praktik tersebut diduga mengarah pada eksploitasi dan grooming anak.
Sementara sang kreator telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf, polemik ini menjadi pengingat keras bahwa kreativitas tanpa etika hanya akan melahirkan masalah.
Di tengah riuh kamera dan angka views, pesan Ai Tina sederhana namun menohok: konten boleh kreatif, tapi jangan kehilangan nurani. (rezza rizaldi)
