TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pelantikan empat kepala sekolah oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya menutup cerita penataan kepemimpinan pendidikan.
Di balik podium, sambutan, dan foto resmi, tersisa fakta yang tak bisa ditutup taplak meja: 15 kepala sekolah dasar hingga kini masih menunggu pelantikan definitif.
Kondisi ini diakui langsung Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, Asep Goparullah, seusai melantik empat kepala sekolah di Aula BKPSDM Kota Tasikmalaya, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga:DPRD Mendesak, Dalih Dinkes Berproses: RS Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Belum Layani BPJSMiss Komunikasi Birokrasi Berulang, Kata DPRD: Jaga Wibawa Kepala Daerah Kota Tasikmalaya
Di tengah penekanan soal idealisme pendidikan dan visi besar Tasik Pintar, kekosongan kepemimpinan di belasan sekolah dasar menjadi ironi yang sulit dihindari.
“Pelantikan ini adalah bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi pondasi masa depan Kota Tasikmalaya,” ujar Asep.
Menurutnya, kepala sekolah bukan sekadar pengisi jabatan administratif, melainkan aktor utama dalam membentuk budaya sekolah.
Integritas, disiplin, dan keteladanan disebutnya sebagai nilai wajib—bukan jargon musiman yang hanya hidup di naskah sambutan.
Asep menegaskan, visi Tasik Pintar tidak boleh dipersempit menjadi urusan nilai rapor atau peringkat akademik.
Pendidikan, kata dia, harus menyentuh mutu pembelajaran, pembentukan karakter, tata kelola sekolah yang tertib, hingga peningkatan kualitas guru.
“Bukan hanya soal prestasi akademik. Tapi bagaimana mutu pembelajaran meningkat, karakter peserta didik terbentuk, budaya sekolah hidup, dan pembinaan guru berjalan,” terangnya.
Baca Juga:Tekan Pemanasan Global, DLH Kota Tasikmalaya Tanam Pohon Ketapang Bersama OKPKonten Kreator Diduga Eksploitasi Anak, DPRD Kota Tasikmalaya Geram: Kreatif Kok Menabrak Hukum?
Dalam kerangka itu, kepala sekolah dituntut hadir sebagai role model, bukan hanya penegak aturan, tetapi juga pelayan bagi peserta didik.
Keteladanan, menurut Asep, adalah bahasa pendidikan yang paling efektif—lebih keras dari spanduk motivasi.
Namun di tengah narasi besar tersebut, kekosongan 15 kepala sekolah dasar menjadi catatan kritis.
Tanpa kepala sekolah definitif, konsistensi manajemen sekolah rawan terganggu, mulai dari pengambilan kebijakan strategis hingga pembinaan internal.
“Masih ada 15 kepala sekolah dasar yang belum dilantik,” terang Asep, singkat namun cukup untuk menegaskan persoalan.
Soal kepastian waktu pelantikan, Asep belum bisa memberi tanggal.
Ia menekankan proses penetapan kepala sekolah tidak bisa dilakukan tergesa-gesa, karena membutuhkan pendalaman dan tahapan yang tidak sederhana.
