Investasi Lahirkan Piutang, Retribusi Pasar yang Sepi Tetap Dicatat Pemkot Tasikmalaya

pasar di Kota Tasikmalaya
Pasar Purbaratu sepi. Lapak pedagang tampak masih utuh, belum pernah digunakan. (Ayu Sabrina/radartasik.id)
0 Komentar

Menurut dia, perubahan perilaku konsumen dan tumbuhnya perdagangan daring membuat pasar fisik kehilangan daya tarik. Akibatnya, investasi yang ditanamkan pemerintah daerah di bidang ekonomi itu tak bisa memberikan imbal hasil bagi PAD dalam bentuk retribusi.

Ketika pasar tradisional berstatus aset milik pemerintah daerah, kios dan los tetap dikenakan kewajiban retribusi. Namun banyak kios kosong, maka retribusi tak tertagih dan akhirnya dicatat sebagai piutang.

Akhirnya, pasar bukan hanya gagal menghasilkan aktivitas ekonomi, tetapi juga menambah catatan piutang yang entah harus kepada siapa menagihnya.

Baca Juga:Imin yang Bukan Gus Muhaemin!Seberapa Menarik Media Sosial Kepala Daerah Menurut Warga? Ini Kata Mereka!

“(Pendapatan retribusi dari ketiga pasar, red) belum realisasi, maka itu masuk laporan sebagai piutang,” jelas Apep.

Data pengelolaan aset daerah menunjukkan, Pasar Nyemplong memiliki luas bangunan 444 meter persegi di atas lahan 5.650 meter persegi, dengan nilai aset Rp1,43 miliar.

Pasar Rakyat Purbaratu memiliki bangunan seluas 938 meter persegi di atas lahan 2.029 meter persegi, dengan nilai aset sekitar Rp1,57 miliar.

Sementara Pasar Rakyat Awipari menjadi yang terbesar, dengan luas bangunan 2.989 meter persegi di atas lahan 7.674 meter persegi, bernilai Rp5,75 miliar. Jika ditotal, investasi publik pada tiga pasar tersebut mencapai lebih dari Rp8,7 miliar.

Untuk menyiasati persoalan itu, kata Apep, Pemkot Tasikmalaya telah berupaya menyelenggarakan pelatihan digital marketing pagi pedagang.

Tujuannya agar mereka bisa adaptasi dan berjualan secara online di kios. Namun hingga kini, upaya itu belum menunjukan hasil. Kios-kios di tiga pasar tradisional yang telah dibangun tetap kosong.

Sebelumnya, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kota Tasikmalaya, Sofian Zaenal Mutaqien, mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghidupkan kembali pasar tersebut.

Baca Juga:Siapa Paling Populer? Adu Popularitas Kepala Daerah Priangan Timur di Media SosialSelalu Saling Menyapa!

Salah satunya adalah konsep pasar tematik, yang memfokuskan pasar pada jenis produk tertentu agar memiliki daya tarik khusus.

Dari enam pasar yang ada di Kota Tasikmalaya, Pasar Purbaratu dan Pasar Cibeureum, masuk dalam wacana penerapan konsep ini.

“Misalnya ini contoh ya, apakah cocok jadi pasar ikan hias, ikan koi. Kemudian Pasar Padayungan lebih ke pasar elektronik yang ada di Tasik. Kemudian Pasar Cibeureum jadi pasar onderdil,” jelas Sofian, Selasa (13/1/2026) lalu.

0 Komentar