TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ambisi Pemerintah Kota Tasikmalaya menggerakan ekonomi melalui pasar tradisional tak terpenuhi. Investasi yang telah ditanamkan malah menjadi piutang pendapatan daerah.
Pemkot Tasikmalaya diketahui telah membangun tiga pasar tradisional di tiga kecamatan beberapa tahun silam. Yaitu Pasar Nyemplong di Kecamatan Tamansari yang dibangun sejak 2016 dan terus disempurnakan hingga tahun 2022.
Kemudian Pasar Awipari di Kecamatan Cibeureum yang dibangun mulai tahun 2018 dan diresmikan tahun 2022. Terakhir, Pasar Purbaratu yang dibangun pada tahun 2020 dan diresmikan tahun 2024.
Baca Juga:Imin yang Bukan Gus Muhaemin!Seberapa Menarik Media Sosial Kepala Daerah Menurut Warga? Ini Kata Mereka!
Hingga kini, pasar-pasar tersebut tak berfungsi optimal. Sebaliknya, terkesan mati suri. Di Pasar Awipari hanya beberapa kios yang terisi. Di Pasar Purbaratu juga demikian. Suasananya sepi. Demikian juga di Pasar Nyemplong.
Tempat yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi, malah menjadi beban daerah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Tasikmalaya, Apep Yosa, menjelaskan ketiga pasar tersebut lahir dari satu kerangka kebijakan yang sama: pada masanya, pemerintah daerah memiliki program “satu kecamatan satu pasar”.
“Dulu ada program satu kecamatan itu satu pasar. Tujuannya supaya ada persebaran, akses perdagangan gampang dijangkau masyarakat,” kata Apep saat diwawancara, Rabu (21/1/2026).
Secara konsep, kebijakan itu dimaksudkan untuk mendekatkan ruang transaksi dengan warga, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di tiap wilayah. Seperti Pasar Nyemplong di Tamansari, yang sejak awal memang dirancang sebagai pasar yang hanya aktif pada hari-hari tertentu. Namun seiring waktu, aktivitasnya kian menyusut.
Sementara Pasar Rakyat Awipari yang diresmikan pada Agustus 2022 dan Pasar Rakyat Purbaratu yang dibangun belakangan, justru mengalami kondisi lebih memprihatinkan: kios-kios kosong dan minim pedagang aktif.
Apep tidak menampik kondisi pasar-pasar tersebut kini sepi. Ia menyebut, pada fase awal semua pasar sempat ramai. Namun tekanan persaingan dengan dunia digital membuat situasi berubah cepat.
Baca Juga:Siapa Paling Populer? Adu Popularitas Kepala Daerah Priangan Timur di Media SosialSelalu Saling Menyapa!
“Di awal-awal ramai, tapi persaingan makin berat. Akses perdagangan sekarang juga dipengaruhi jualan online. Itu kondisi real,” ujarnya.
