Diberitakan sebelumnya, program parkir berkarcis yang digadang-gadang Dishub Kota Tasikmalaya sebagai jalan mendongkrak PAD ternyata belum sepenuhnya meninggalkan pola lama.
Di balik jargon transparansi, target setoran bulanan bagi juru parkir masih tetap dipertahankan.
Kepala UPTD Parkir Dishub Kota Tasikmalaya, Uen Haeruman, mengakui bahwa masukan dari Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H Wahid soal parkir berkarcis memang masuk akal.
Baca Juga:Bawa Misi Budaya ke Thailand, Sanggar Dewa Motekar Wakili Kota Tasikmalaya di Festival InternasionalTransaksi Pakai Medsos dan COD, 5 Kasus Narkoba di Kota Tasikmalaya Dibongkar Polisi
Secara teori, jika parkir sudah menggunakan karcis, pendapatan bisa dihitung dari jumlah karcis yang keluar.
“Kalau sudah pakai karcis, kan tinggal hitung karcis saja. Berapa keluar, itu pendapatannya,” kata Uen, Senin (19/1/2026).
Namun di lapangan, skema tersebut belum sepenuhnya berjalan.
Dishub masih menemukan banyak juru parkir yang tidak memberikan karcis kepada pengguna jasa, kecuali jika diminta.
“Masih ada jukir yang enggak ngasih karcis. Harus diminta dulu. Makanya kita terus sosialisasi,” ujarnya.
Dishub pun mengaku telah memasang banner, spanduk, baliho, hingga melakukan woro-woro langsung ke lapangan.
Bahkan, kepala dinas dan sekretaris dinas turun langsung mengecek kebiasaan juru parkir. Hasilnya, karcis belum juga menjadi budaya.
Meski demikian, target setoran bulanan tetap diberlakukan. Juru parkir masih dibebani angka tertentu setiap bulan.
Baca Juga:RS Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Belum Terkoneksi dengan BPJS, Kadinkes: Sedang BerprosesIsra Mi’raj Pemkot Tasikmalaya Pindah ke Cibeureum Picu Salah Paham!
“Mereka tetap di target. Misalnya sebulan sekian, 500 misalnya. Tetap di target,” terang Uen.
Menurutnya, skema ganda ini sengaja diterapkan agar PAD tidak anjlok, sembari memetakan potensi riil parkir di lapangan.
Namun, skema inilah yang kemudian menuai kritik karena dinilai membuat sistem parkir berkarcis di Kota Tasikmalaya terkesan setengah hati—antara transparansi yang digaungkan dan pola lama yang tetap dipelihara. (rezza rizaldi)
