TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kota Tasikmalaya ramai. Bukan oleh kebijakan. Tapi oleh kamera ponsel.
Kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Kota Resik ini disambut antusias.
Wajar. Orang nomor dua di republik datang. Pejabat berjejer. Senyum ditebalkan. Ponsel diangkat setinggi mungkin. Selfie menjadi bahasa paling fasih hari itu. Masyarakat senang. Pejabat lebih senang lagi.
Baca Juga:Imin yang Bukan Gus Muhaemin!Seberapa Menarik Media Sosial Kepala Daerah Menurut Warga? Ini Kata Mereka!
Tiga titik dikunjungi: Pasar Cikurubuk, RSUD dr. Soekardjo, dan SMAN 2 Tasikmalaya. Tiga lokasi strategis. Tiga sektor penting: ekonomi rakyat, layanan kesehatan, dan pendidikan. Kombinasi yang biasanya melahirkan sesuatu. Minimal janji. Idealnya kebijakan.
Tapi kali ini tidak. Di Pasar Cikurubuk, Wapres Gibran didampingi Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi berkeliling. Menyapa pedagang. Bertanya harga. Memastikan ketersediaan bahan pokok. Semua berjalan rapi. Dialog ringan. Kamera mengikuti dari belakang.
Tak ada kalimat “akan dibantu”. Tak ada isyarat “siapkan proposal”.
Di RSUD dr. Soekardjo suasananya serupa. Wapres menyapa pasien. Berbincang singkat. Melihat-lihat fasilitas. Rumah sakit tampak bersih. Senyum kembali dibagikan. Lensa kembali bekerja. Lalu selesai.
Di SMAN 2 Tasikmalaya, Wapres memastikan program MBG berjalan. Membagikan alat tulis kepada siswa. Anak-anak senang. Guru tersenyum. Kepala sekolah mengangguk-angguk.
Semua baik-baik saja. Terlalu baik, malah. Biasanya, setiap pejabat pusat datang ke Tasikmalaya, pemerintah daerah memanfaatkan momentum itu. Ajang lobi. Ajang curhat. Ajang menyodorkan daftar panjang kebutuhan daerah: pasar perlu revitalisasi, rumah sakit butuh alat, sekolah kekurangan ruang kelas.
Biasanya begitu. Tapi kali ini, tidak terdengar apa-apa. Tak ada permintaan bantuan. Tak ada proposal yang disebut-sebut. Tak ada dorongan agar pusat turun tangan lebih jauh. Seolah-olah Kota Tasikmalaya sudah sangat mandiri. Seolah-olah APBD cukup untuk semua mimpi.
Baca Juga:Siapa Paling Populer? Adu Popularitas Kepala Daerah Priangan Timur di Media SosialSelalu Saling Menyapa!
Atau mungkin memang tidak sempat. Waktu habis oleh agenda. Oleh protokoler. Oleh foto bersama. Oleh keinginan mengabadikan momen dengan Wapres termuda itu.
Pertanyaannya sederhana, tapi penting:
Apakah Pemerintah Kota Tasikmalaya memang tidak membutuhkan bantuan pusat? Ataukah justru belum siap memanfaatkannya?
Kunjungan sudah lewat. Selfie sudah tersimpan. Media sosial sudah penuh unggahan. Tapi kebijakan—ia tidak ikut turun dari mobil rombongan.
