Janji Palsu Perbaikan Jalan Rusak, Warga Keluhkan Kondisi Infrastruktur di Sukahurip Cipatujah Tasikmalaya

Jalan rusak sukahurip cipatujah
Warga Desa Sukahurip, Kecamatan Cipatujah, memperbaikai jalan utama desa secara swadaya meski jalan terdebut berstatus jalan milik kabupaten Rabu 21 Januari 2025. (Istimewa Foe Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pagi belum sepenuhnya hangat ketika warga Desa Sukahurip, Kecamatan Cipatujah, mulai melintasi jalan utama desa mereka. Di ruas jalan berstatus jalan kabupaten itu, lubang-lubang besar menganga, menyisakan genangan air dan hamparan tanah licin.

Setiap pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati. Sedikit lengah, motor bisa tergelincir, mobil pun berisiko terperosok. Bagi warga Sukahurip, kondisi ini bukan cerita baru. Jalan penghubung antar desa dan kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya itu telah rusak parah selama puluhan tahun.

Ironisnya, meski menjadi akses vital masyarakat, perbaikan nyaris tak pernah mereka rasakan. Kondisi jalan masih rusak setelah bertahun-tahun

Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona

Ketua Pemuda Desa Sukahurip, Dindi (37), mengaku hafal betul wajah jalan tersebut. Sejak ia masih kecil hingga kini berkeluarga, perubahan nyaris tak terlihat. Menurutnya, sepanjang ingatan warga, aspal hanya sekali menyentuh jalan itu—dan itu pun sudah lama berlalu.

“Kalau dihitung-hitung, baru satu kali diaspal. Selebihnya ya begini terus. Padahal ini jalan kabupaten, bukan jalan kecil desa,” ujar Dindi, nada suaranya terdengar getir.

Setiap musim pemilu datang, jalan itu seolah berubah menjadi panggung janji. Spanduk, baliho, dan rombongan calon wakil rakyat silih berganti hadir. Mereka berbicara soal pembangunan, kesejahteraan, dan perhatian kepada warga selatan Tasikmalaya. Namun setelah suara dihitung dan kursi kekuasaan diduduki, jalan Sukahurip kembali dilupakan.

“Setiap lima tahun selalu dijanjikan. Entah itu pileg atau pilkada. Tapi habis pemilu, ya tetap saja rusak. Kami capek dijanjikan,” kata Dindi.

Tak ingin terus menunggu tanpa kepastian, warga akhirnya memilih bertindak. Setiap hari Selasa, masyarakat Sukahurip bergotong royong memperbaiki jalan dengan kemampuan seadanya. Tidak ada dana pemerintah, tidak ada proyek besar—hanya swadaya dan kepedulian warga.

Batu, pasir, dan semen menjadi senjata utama mereka. Lubang-lubang ditambal sekadarnya, cukup agar kendaraan bisa melintas tanpa terlalu berbahaya. Semua biaya berasal dari patungan warga, demi satu tujuan: keselamatan.

Langkah itu bukan tanpa alasan. Dindi menyebut, kecelakaan kerap terjadi di ruas jalan tersebut. Pengendara motor jatuh, mobil tersangkut di lubang, bahkan nyaris menelan korban serius.

0 Komentar