Terkait konsep prasmanan, Feni mengakui antusiasme siswa cukup tinggi.
Namun, penerapannya secara rutin masih terbentur keterbatasan personel SPPG.
“Kalau setiap hari tidak mungkin, karena personel SPPG terbatas. Mungkin bisa sebulan sekali,” jelasnya.
Antusiasme itu terlihat dari pengakuan Silvi, siswa kelas 6 SDN Sukasari. Ia mengaku senang dengan pola prasmanan yang memberi kebebasan memilih.
“Tadi ambil makannya ngantre. Biasanya sudah dikasih di ompreng,” cetusnya.
Baca Juga:Parkir Berkarcis di Kota Tasikmalaya Masih Setengah Hati, Kata Praktisi Hukum: Dishub Banyak RetorikaBawa Misi Budaya ke Thailand, Sanggar Dewa Motekar Wakili Kota Tasikmalaya di Festival Internasional
Silvi juga merasa lebih puas karena bisa menambah porsi sesuai kebutuhan.
“Senang kalau kayak gini, kalau kurang boleh nambah. Mau setiap hari,” ujarnya polos.
Pelaksanaan MBG dengan konsep prasmanan pada puncak Hari Gizi Nasional ini menunjukkan bahwa program pemenuhan gizi di Kota Tasikmalaya bisa dikemas lebih edukatif dan partisipatif.
Namun di balik euforia siswa, terselip catatan klasik: inovasi masih harus bernegosiasi dengan keterbatasan sumber daya.
Sebuah sindiran halus bahwa edukasi gizi tak cukup hanya membagikan makanan, tetapi juga menyiapkan sistem yang sanggup menopangnya. (ayu sabrina barokah)
