Lebih jauh, De Zerbi mengaku heran dengan sikap sebagian publik yang seolah menyimpan rasa iri dan kebencian terhadap Fabregas.
“Saya tidak mengerti kenapa ada semacam kecemburuan dan kekerasan dalam menilai anak ini,” tuturnya.
“Saat ia berbicara, saya tidak melihat dia tidak sopan atau ingin pamer. Apa orang-orang benar-benar sebodoh itu sampai berpikir dia tidak ingin menang?” katanya dengan nada keras.
Baca Juga:Hasil Liga Champions: Arsenal Kirim Inter ke Babak PlayoffInter Milan vs Arsenal: Arteta Kagum dengan Keberanian Chivu
De Zerbi bahkan merasa situasi yang dialami Fabregas mengingatkannya pada masa lalu.
Ia mengaku pernah mengalami perlakuan serupa sekitar sepuluh tahun lalu, ketika ide-idenya dianggap aneh dan terlalu idealis.
“Semua orang ingin menang, bahkan anak-anak yang bermain bola di jalanan juga ingin menang,” lanjutnya.
Ia kemudian menanggapi salah satu pernyataan Fabregas yang kerap disalahartikan publik, yakni soal “pergi tidur sambil memikirkan bagaimana cara kalah”.
Menurut De Zerbi, pernyataan itu bukan bentuk kepasrahan, melainkan refleksi mendalam seorang pelatih yang terus memikirkan risiko dan cara memperbaiki tim.
“Siapa pun yang tidak memahami maksud Fabregas ketika mengatakan hal itu, menurut saya beritikad buruk. Itu bentuk ketidakjujuran dan ketidakadilan,” tutup De Zerbi.
Pembelaan De Zerbi ini seolah menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar soal hasil akhir, tetapi juga proses, gagasan, dan keberanian untuk menawarkan jalan berbeda.
Baca Juga:Bergerak dalam Senyap, Inter Rekrut Bek Muda Dinamo ZagrebJadi Incaran Arsenal, Inter Akan Naikkan Gaji Federico Dimarco Hingga Rp93,5 Miliar
Fabregas, dengan segala sorotan yang mengiringinya, kini diminta untuk dinilai lebih adil—setidaknya oleh mereka yang mengaku memahami sepak bola.
