TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pasar Cikurubuk, yang selama ini dikenal sebagai ikon perdagangan rakyat di Kota Tasikmalaya, kian kehilangan denyutnya.
Di balik deretan kios dan lorong panjang pasar induk tersebut, para pedagang mikro menghadapi tekanan berat akibat perubahan ekonomi, pergeseran pola konsumsi, serta lemahnya tata kelola pasar.
Kondisi itu tergambar dari cerita Anisa dan Ilham, dua pedagang dari generasi berbeda yang sama-sama merasakan krisis Pasar Cikurubuk, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara struktural dan konseptual.
Baca Juga:Seberapa Menarik Media Sosial Kepala Daerah Menurut Warga? Ini Kata Mereka!Siapa Paling Populer? Adu Popularitas Kepala Daerah Priangan Timur di Media Sosial
Anisa, pedagang yang telah bertahan selama setahun terakhir di Pasar Cikurubuk, mengaku pesimistis melihat kondisi pasar saat ini. Menurutnya, persaingan semakin berat dan ruang gerak pedagang kecil kian menyempit.
“Keadaan Cikurubuk sekarang, di pasar sudah enggak ada harapan lagi,” ujarnya kepada Radar, Selasa (20/1/206).
Ia menuturkan, perusahaan besar kini membuka toko berskala raksasa dengan harga yang jauh lebih murah dibanding pasar tradisional.
Situasi tersebut membuat pedagang kecil sulit bersaing sejak awal. Tekanan semakin terasa dengan maraknya perdagangan daring.
“Di online harganya jauh lebih murah, orang tinggal klik,” kata Anisa.
Selain itu, Anisa menyoroti perubahan pola distribusi barang. Perusahaan besar kini menyuplai langsung ke pedagang kecil, namun harga ditentukan sepihak sehingga justru menekan keuntungan pedagang mikro.
“Kami jadi enggak punya daya tawar,” ucapnya.
Anisa juga menyebut keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi harga pasar dan membuat ekosistem perdagangan semakin tidak stabil serta sulit diprediksi.
Baca Juga:Selalu Saling Menyapa!The Legend 2 & Studio 29: Tempat Orang Tasikmalaya Berhenti Sejenak!
Sementara itu, Ilham, pedagang muda dari generasi Z, memandang persoalan Pasar Cikurubuk dari sudut yang lebih reflektif. Ia menilai akar masalah pasar tradisional bukan semata soal bangunan atau penataan kios.
“Sebenernya masalahnya bukan penataan,” ujar Ilham.
“Tapi perilaku konsumen yang sudah berubah. Mereka sekarang lebih memanfaatkan platform online,” tambahnya.
Menurut Ilham, terjadi paradoks di pasar tradisional. Konsumen yang masih berbelanja langsung ke pasar umumnya memiliki keterbatasan akses digital dan daya beli yang rendah. Sebaliknya, konsumen dengan daya beli lebih baik justru beralih ke belanja daring atau ritel modern.
