TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 41 Kota Tasikmalaya menghadapi ironi di tengah limpahan fasilitas dari pemerintah pusat.
Smart board tersedia, seragam baru rapi, sepatu dan air minum aman. Namun satu persoalan mendasar justru luput: ruang belajar yang layak.
Keterbatasan bangunan membuat sekolah yang berlokasi di Jalan Suaka, Kelurahan Sambongpari, Kecamatan Mangkubumi, itu harus memutar otak.
Baca Juga:Penggelapan Dana Pajak Rp824 Juta, Head Accounting Perusahaan Dilaporkan ke Polres Tasikmalaya KotaTelat Isi Pengajian, Kabag Kesra Setda Kota Tasikmalaya Islah dengan Muhammadiyah di Masjid Al-Manar
Ruang yang sejatinya bukan kelas, terpaksa disulap demi menyelamatkan proses belajar mengajar.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SR 41 Tasikmalaya, Himawan Galih Nugroho, menunjukkan sebuah rumah sewaan yang awalnya diperuntukkan sebagai ruang istirahat wali asuh, guru, dan tenaga kependidikan, sekaligus gudang logistik kiriman pusat.
Kini, rumah itu berubah fungsi menjadi ruang kelas darurat.
Di ruangan sempit tersebut, guru mengajar siswa SMP yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Tanpa sekat memadai, suasana belajar berlangsung serba terbatas, jauh dari standar ideal sebuah satuan pendidikan.
Kondisi serupa juga terjadi di mushola sekolah.
Sejak pagi hingga menjelang waktu dzuhur, ruang ibadah itu digunakan sebagai kelas siswa SD Fase A—kelompok anak yang juga masih berjuang mengejar kemampuan dasar calistung.
Mushola pun harus berbagi peran: pagi jadi kelas, siang kembali ke fungsi awalnya.
“Ini kondisi yang terpaksa kami jalani. Fasilitas pembelajaran sebenarnya ada, tapi ruangannya yang tidak mencukupi,” ujar Himawan, Senin (19/1/2026).
Baca Juga:Wapres Gibran Blusukan Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya hingga RSUD dan SMAN 2: Sayur Diborong, Copet BeraksiCyper Cup 2026 Dibuka, 58 Sekolah Ramaikan Turnamen Basket Pelajar Kota Tasikmalaya
Persoalan ruang tidak berhenti di situ. Ruang guru di SR 41 Kota Tasikmalaya ditempati 17 orang pendidik. Satu meja harus digunakan dua guru sekaligus.
Ruangan itu masih dibelah lagi untuk Tata Usaha (TU), lalu dipersempit kembali menjadi ruang UKS yang hanya muat satu ranjang.
Untuk jenjang SD, sekolah hanya memiliki satu ruang kelas. Ruangan tersebut dibagi dua untuk Fase B dan Fase C dengan pembatas seadanya berupa papan tulis yang diposisikan menyamping.
Akibatnya, dua kelompok siswa belajar bersamaan, dengan suara guru yang saling bersahutan seperti lomba adu volume.
Secara keseluruhan, SR Terintegrasi 41 Kota Tasikmalaya hanya memiliki empat ruang asrama, tiga ruang kelas—satu untuk SD dan dua untuk SMP—serta satu mushola.
