Namun, ruang yang sempit membuat fasilitas itu seperti etalase—ada, tapi tak sepenuhnya bisa dinikmati.
Kondisi ruang guru pun tak kalah padat. Sebanyak 17 guru harus berbagi ruang dan meja kerja yang terbatas.
Koordinasi dilakukan serba singkat, praktis, dan sering kali sambil berdiri—sebuah ironi di sekolah yang digadang-gadang sebagai ruang pemulihan.
Baca Juga:Penggelapan Dana Pajak Rp824 Juta, Head Accounting Perusahaan Dilaporkan ke Polres Tasikmalaya KotaTelat Isi Pengajian, Kabag Kesra Setda Kota Tasikmalaya Islah dengan Muhammadiyah di Masjid Al-Manar
Harapan kini disematkan pada rencana Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk membangun Sekolah Rakyat yang lebih representatif.
Sejumlah lokasi disebut masih dikaji agar sekolah ini tak terus berjalan dengan napas pendek dan ruang seadanya.
Bagi para guru SR 41 Kota Tasikmalaya, mendidik anak-anak dari latar belakang rentan bukan sekadar soal kurikulum.
Ini tentang memulihkan kepercayaan diri, menyediakan ruang aman, dan menyalakan harapan—meski untuk sementara harus dimulai dari ruang yang sempit dan serba terbatas. (ayu sabrina barokah)
