TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Tiga bulan setelah diresmikan pada Oktober 2025, Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 41 Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya menikmati euforia peresmian.
Di balik jargon keberpihakan pada masyarakat rentan, guru-guru justru berjibaku dengan kenyataan: ruang belajar terbatas, kemampuan siswa timpang, dan beban psikologis yang tak masuk kurikulum.
Fase adaptasi menjadi menu harian para tenaga pendidik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SR 41 Tasikmalaya, Dika Restu Rohmana, menyebut tantangan utama bukan sekadar minimnya sarana fisik, melainkan kondisi dasar dan mental siswa yang sangat beragam.
Baca Juga:Penggelapan Dana Pajak Rp824 Juta, Head Accounting Perusahaan Dilaporkan ke Polres Tasikmalaya KotaTelat Isi Pengajian, Kabag Kesra Setda Kota Tasikmalaya Islah dengan Muhammadiyah di Masjid Al-Manar
“Selama tiga bulan ini guru lebih banyak beradaptasi daripada mengajar materi. Kami harus memetakan ulang kemampuan siswa, terutama yang belum bisa calistung,” ujar Dika, Senin (19/1/2026).
Realitas itu memaksa sekolah mengambil langkah yang tidak populer namun dianggap perlu: memisahkan siswa yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung. Bukan untuk melabeli, melainkan untuk melindungi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Himawan Galih Nugroho, mengungkapkan bahwa siswa yang belum calistung kerap menjadi sasaran ejekan teman sebaya.
Akibatnya, rasa percaya diri runtuh bahkan sebelum pelajaran dimulai.
“Kalau digabung, mereka sering jadi bahan ejekan. Lama-lama memilih diam, menyendiri, dan tidak mau berinteraksi,” tutur Himawan.
Di titik ini, guru Sekolah Rakyat Kota Tasikmalaya tak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pendamping emosional.
Mereka mengajar di ruang-ruang yang jauh dari kata ideal—mulai dari rumah sewaan hingga mushola—sambil memastikan kelas tetap aman dari tekanan sosial.
Persoalan tak berhenti di situ. Jumlah siswa SR 41 Tasikmalaya juga terus menyusut. Dari awalnya 75 siswa, kini tersisa 66 orang.
Baca Juga:Wapres Gibran Blusukan Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya hingga RSUD dan SMAN 2: Sayur Diborong, Copet BeraksiCyper Cup 2026 Dibuka, 58 Sekolah Ramaikan Turnamen Basket Pelajar Kota Tasikmalaya
Sistem multi exit multi entry yang diterapkan membuat keluar masuk siswa menjadi hal lumrah—sekaligus alarm keras soal ketahanan adaptasi.
“Ada yang tidak betah, ada yang kesulitan menyesuaikan diri. Banyak yang keluar dan tidak kembali,” beber Dika.
Ironisnya, fasilitas penunjang sebenarnya tersedia. Smart board, seragam baru, sepatu sekolah dan olahraga, hingga fasilitas minum disiapkan.
