TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Aktivitas kepala daerah di media sosial menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Sejumlah warga menilai media sosial para pemimpin daerah di Priangan Timur masih lebih dominan menampilkan pencitraan dibandingkan gambaran utuh kinerja pemerintahan.
Meski ada pula yang melihatnya sebagai upaya membangun kedekatan dan keterbukaan dengan publik.
Baca Juga:Estafet di Kota Santri, PMII Kota Tasikmalaya Selalu Tahu Diri!Yanto Oce Datang, Tasikmalaya Menghangat Lagi!
Ketua PK KNPI Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Aris Romdoni, menyebut media sosial seharusnya menjadi sarana informasi dan edukasi publik, bukan semata alat membangun citra.
“Yang terlihat hari ini, media sosial itu hanya menampilkan seolah-olah pemimpinnya sudah bekerja dengan baik. Padahal kesannya lebih ke pencitraan untuk mencari simpati masyarakat,” ujarnya, Minggu (18/1/2025).
Menurut Aris, berbagai persoalan di masyarakat justru lebih banyak muncul melalui media sosial warga, bukan dari akun resmi kepala daerah.
“Idealnya itu seimbang. Yang sudah bagus dan tercapai silakan ditampilkan, tapi yang belum berjalan atau masih bermasalah juga harus disampaikan secara terbuka,” tegasnya.
Ia juga menyoroti konten media sosial Bupati Tasikmalaya yang dinilai lebih banyak menampilkan infrastruktur jalan yang sudah baik.
“Jangan hanya memperlihatkan jalan yang sudah dibangun. Masih banyak jalan rusak yang perlu diperhatikan. Pembangunan itu tetap harus diawasi secara ketat,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan Hilman (36), warga Kecamatan Bojonggambir. Ia mengaku bahkan tidak mengetahui bahwa Bupati Tasikmalaya memiliki media sosial untuk sosialisasi program.
Baca Juga:Kabupaten Garut Bakal Jadi Tuan Rumah Porprov 2030Pasar Terbesar di Priangan Timur Pun Kini Menangis, Kadis Baru yang Ragu Terkena Debu!
“Saya sendiri tidak tahu kalau Bupati punya media sosial untuk sosialisasi,” ungkapnya.
Menurutnya, jika media sosial dijadikan sarana komunikasi publik, maka informasi yang disampaikan harus menyeluruh dan transparan.
“Kalau memang lewat media sosial, harus dijelaskan secara seimbang. Yang bagus disampaikan, yang belum tercapai atau gagal juga harus dijelaskan ke masyarakat,” katanya.
Sejumlah warga berharap media sosial pemimpin daerah ke depan dapat menjadi ruang komunikasi dua arah yang jujur dan terbuka.
Sementara itu di Kota Tasikmalaya, aktivitas Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan di media sosial juga memunculkan tafsir publik yang beragam. Melalui akun Instagram @viman.alfarizi dengan sekitar 26 ribu pengikut, Viman kerap menampilkan aktivitas lari, kunjungan lapangan, hingga agenda pemerintahan, dengan kamera yang hampir selalu menyertainya.
