Ketika Mas Wapres dan Mas Wali ke Pasar "Becek" Kota Tasikmalaya

Kunjungan wapres gibran ke kota tasikmalaya
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Selasa (20/1/2026).
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pasar Cikurubuk itu terkenal. Bukan karena megah. Justru karena becek. Lantai basah. Bau sayur bercampur ikan. Tapi di situlah denyut rakyat Tasikmalaya berdegup setiap hari.

Pagi itu, dua anak muda berjalan beriringan di lorong pasar. Usianya sama: 38 tahun.Langkahnya hampir sama cepat. Bajunya pun nyaris senada: biru langit muda.

Yang satu Wakil Presiden Republik Indonesia. Yang satu Wali Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:LBH Ansor Jawa Barat: Kriminalisasi Kebijakan, Ancaman bagi Tata Kelola Negara!Gowes Tanpa Lomba, Tapi Penuh Cerita di Kota Tasikmalaya!

Kini orang memanggil mereka sederhana saja: Mas Wapres dan Mas Wali.Mas Gibran dan Mas Viman.

Mereka tidak naik podium. Tidak berpidato.Mereka berjalan. Menyapa. Bersalaman. Bertanya harga cabai. Harga beras. Harga minyak. Sekitar 30 menit. Cukup untuk tahu pasar sedang baik-baik saja atau tidak.

Mas Gibran, rambutnya rapi belah dua.Mas Viman, dengan gaya khasnya sendiri—lebih lepas, lebih lokal. Keduanya sama-sama muda. Sama-sama punya “nama besar” di belakangnya.

Mas Gibran adalah putra Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Mas Viman adalah keponakan Ketua DPD Gerindra Jawa Barat, H. Amir Mahpud.

Tapi pagi itu, di Pasar Cikurubuk, nama belakang seolah ditinggal di pintu masuk.Yang ditanya pedagang bukan siapa ayahnya. Bukan siapa pamannya. Yang ditanya sederhana: “Harga bakal naik lagi tidak, Mas?”

Itulah ujian sesungguhnya kepemimpinan muda.

Mas Gibran lahir 1 Oktober 1987. Mas Viman lahir 14 Mei 1987. Usia mereka sama. Tantangannya pun serupa.

Generasi ini tidak cukup hanya populer. Tidak cukup hanya viral. Harus mau turun ke pasar. Ke tempat becek. Ke tempat riuh.

Baca Juga:Proyek Pembangunan KNMP Pangandaran Diduga Molor20 Adegan Kasus Tusuk Dada di Eks Depo Ikan Cieunteung Kota Tasikmalaya Diperagakan pada Rekonstruksi

Pasar Cikurubuk mungkin tidak ingat semua janji. Tapi pasar selalu ingat siapa yang pernah datang.

Dan pagi itu, pasar melihat dua Mas. Bukan simbol. Bukan sekadar anak siapa.

Melainkan dua pemimpin muda yang sedang belajar—langsung dari lantai pasar yang basah. (red)

0 Komentar