The Legend 2 & Studio 29: Tempat Orang Tasikmalaya Berhenti Sejenak!

The Legend 2 & Studio 29
Dua pria bernyanyi di The Legend 2 & Studio 29, Jalan Pemuda. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Malam itu Jalan Pemuda terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena macet. Bukan pula karena razia. Tapi karena sebuah tempat ngopi baru membuka pintunya: The Legend 2 & Studio 29.

Alamatnya sederhana, di Jalan Pemuda No 29. Orang Tasikmalaya lebih mudah mengingatnya dengan penanda lama. Pasar Mambo, samping Bengkel Lodi. Titik itu kini punya wajah baru. Lebih hangat. Lebih hidup.

Tempat ini bukan sekadar kedai kopi.

Di dalamnya ada makanan berat. Ada donat. Ada kopi—berbagai kopi khas Tasikmalaya. Lengkap. Dari yang sekadar ingin duduk sebentar, sampai yang ingin berlama-lama.

Baca Juga:Estafet di Kota Santri, PMII Kota Tasikmalaya Selalu Tahu Diri!Yanto Oce Datang, Tasikmalaya Menghangat Lagi!

Yang menarik, tempat ini punya studio. Bukan studio asal-asalan. Ada juga private room. Ada ruang untuk berbincang tanpa terganggu. Ada ruang untuk bermusik tanpa sungkan.

Pemiliknya, H Rana Alamsyah, menyebut pembukaan The Legend 2 bukan semata urusan bisnis.

“Ini tempat silaturahim,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.

Di kota yang ritmenya kian cepat, orang butuh tempat untuk berhenti sejenak. Untuk duduk. Untuk menyapa. Untuk saling mendengar.

Kopi, dalam konteks ini, hanya medium. Yang utama adalah pertemuan. Karena itu, The Legend 2 tidak ingin hening. Disediakan live music outdoor. Musik mengalun pelan di sore hari. Kadang riuh di malam minggu. Bukan untuk pamer suara. Tapi untuk mengusir penat.

Bagi yang ingin lebih serius, tersedia studio musik dengan peralatan yang—kata anak muda—sangat worth it. Gitar, drum, sound system. Semua siap dipakai. Tinggal datang. Tinggal main.

Tasikmalaya memang kota santri. Tapi juga kota kreatif. Dan kreativitas, sering lahir dari obrolan santai. Dari cangkir kopi. Dari denting nada yang tak direncanakan.

The Legend 2 & Studio 29 seperti ingin mengambil peran itu. Menjadi ruang temu. Ruang jeda. Ruang bernapas. Di Jalan Pemuda, nomor 29, kini legenda kecil itu dimulai. (red)

0 Komentar