TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dalam rangka memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, SDN Gunungkoneng Kota Tasikmalaya menggelar kegiatan penguatan keagamaan bertajuk Nada dan Dakwah yang dilaksanakan di lapangan sekolah pada Kamis (15/1/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias. Suasana khidmat yang tercipta mencerminkan semangat kebersamaan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.
Peringatan Isra Mikraj kali ini diisi dengan tausyiah keagamaan yang disampaikan oleh Ajengan Aan Farhan SHI. Selain dikenal sebagai mubalig, ia juga merupakan budayawan Kota Tasikmalaya serta aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).
Baca Juga:Persiapkan Lulusan ke Perguruan Tinggi, MAN 1 Kota Tasikmalaya Gelar Campus Expo 2026Menginap Lebih Lama dengan Harga Diskon, Alhambra Hotel & Convention Luncurkan “JaNewary Extend & Save”
Kehadiran penceramah dengan latar belakang keagamaan dan budaya ini sekaligus menegaskan pendekatan dakwah yang sejalan dengan visi sekolah.
Dalam tausyiahnya, Ajengan Aan menekankan bahwa inti dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah salat lima waktu. Salat, kata dia, disebut sebagai ibadah wajib yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim dan tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun.
Suasana religius semakin terasa dengan lantunan salawat yang dibawakan oleh grup hadroh Mahabbaturrosul. Iringan salawat tersebut disambut meriah oleh para siswa yang turut bersalawat bersama, menciptakan nuansa kebersamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya berfokus pada penguatan spiritual, kegiatan ini juga diakhiri dengan aksi sosial. Sekolah memberikan santunan kepada 20 siswa yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian dan penanaman nilai empati sejak dini.
Kepala SDN Gunungkoneng, Dr Caswita SAg MaPd, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah dalam membangun iklim pendidikan yang religius dan berbudaya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membiasakan siswa berada dalam lingkungan yang sarat nilai keagamaan dan budaya. Ini bukan hanya seremoni, tetapi bagian dari pembentukan karakter,” ujar Caswita.
Ia menambahkan, ke depan pihak sekolah akan terus memprioritaskan program-program berbasis keagamaan dan seni budaya sebagai penguat karakter siswa.
Baca Juga:Santika Indonesia Hotels & Resorts Jadi Sponsor Satria Muda Pertamina BandungCari Makan Siang Efisien? Cordela Suites Tasikmalaya Hadirkan Express Lunch Rp 68 Ribu
Menurutnya, lingkungan sekolah yang kondusif akan lahir dari keseimbangan antara pendidikan akademik, spiritual dan budaya lokal yang dijaga secara berkelanjutan. (Fitriah Widayanti)
