“Undangan jelas ditujukan kepada wali kota. Soal siapa yang ditugaskan, itu hak beliau. Kami menerima siapa pun. Tapi faktanya, yang hadir datang ketika acara sudah selesai,” tuturnya.
Kekecewaan pun menyebar. Dari jamaah biasa sampai aktivis. Reaksinya beragam. Ada yang diam. Ada yang bertanya-tanya.
Pimpinan, kata Asep, memilih menahan diri. Tapi pertanyaan warga tak bisa dibungkam. “Mereka bertanya, ‘sepertinya ada apa dengan pemerintah?’ Itu wajar,” tegasnya.
Baca Juga:Ketika Muhammadiyah Merasa Tak Disapa Pemerintah Kota Tasikmalaya!Kabag Kesra Kota Tasikmalaya Telat Datang, Terlambat Menjelaskan!
Ia juga mengingatkan, ini bukan undangan pertama. Beberapa agenda Muhammadiyah sebelumnya juga diwakilkan. Dari kegiatan pemuda, daurah, hingga acara lain.
“Kami ini bagian dari masyarakat Kota Tasikmalaya. Muhammadiyah juga berkontribusi untuk pembangunan. Yang kami harapkan hanya komunikasi, silaturahmi, dan sinergi,” katanya.
Sementara itu, Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, Asep Dudi, membenarkan batalnya pertemuan. Alasannya singkat. Disampaikan dengan bahasa Sunda.
“Muhun kang, mung kapegat ku tamu. Abdi nampi tamu keneh. Abdi nyuhunkeun waktos kanggo ka wengi,” katanya.
Jawaban itu sah. Bisa diterima secara pribadi. Tapi bagi Muhammadiyah, secara kelembagaan, penjelasan itu belum cukup.
Karena yang dinanti bukan sekadar alasan. Yang ditunggu adalah kehadiran. Seperti Ahad kemarin, niat datang memang ada. Tapi selalu saja waktunya lewat. Dan di Masjid Al-Manar, kursi itu kembali kosong. (rezza rizaldi)
