Ketika Muhammadiyah Merasa Tak Disapa Pemerintah Kota Tasikmalaya!

ketidakhadiran wali kota Tasikmalaya di pengajian Muhammadiyah
Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Kota Tasikmalaya, Irfan Ramdani. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ketidakhadiran Wali Kota Tasikmalaya dalam kegiatan Pengajian Muhammadiyah kembali menjadi cerita yang berulang.

Bukan sekadar absensi dalam daftar hadir, tetapi sebuah peristiwa yang meninggalkan rasa.

Di tengah lantunan ayat dan tausiah, ada ruang kosong yang terasa semakin nyata: kursi pemimpin kota yang tak pernah terisi.

Baca Juga:Kabag Kesra Kota Tasikmalaya Telat Datang, Terlambat Menjelaskan! Modus Numpang Buang Sampah, Motor Warga Kota Tasikmalaya Dibawa Kabur Orang Tak Dikenal

Kritik kali ini datang dari Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Kota Tasikmalaya, Irfan Ramdani.

Ia menyebut absennya wali kota sebagai peristiwa yang memilukan —kata yang lahir bukan dari kemarahan, melainkan dari kekecewaan mendalam.

“Peristiwanya memilukan. Diundang dalam acara organisasi Muhammadiyah, tapi seolah dihindari,” ujar Irfan kepada Radartasik.id, Minggu (18/1/2026) malam.

Menurut Irfan, undangan sudah disampaikan secara resmi. Tidak ada alasan administratif untuk absen.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: Pemerintah Kota Tasikmalaya dinilai semakin menjauh dari kegiatan organisasi Islam besar yang selama ini menjadi bagian penting denyut sosial keagamaan kota santri tersebut.

Ia mempertanyakan apa yang sebenarnya menjadi alasan. Apakah jadwal pengajian yang digelar pagi hari dianggap terlalu dini? Atau ada perasaan bahwa warga Muhammadiyah tidak cukup penting untuk disapa langsung oleh pemimpinnya?

“Apakah kegiatannya terlalu pagi, atau memang warga organisasi Muhammadiyah tidak dianggap?” ucapnya, getir.

Baca Juga:Musda V PUI Kota Tasikmalaya Soroti Penertiban Wakaf dan Pentingnya Kekokohan IntegritasGerakan Warga Sukanagara Kota Tasikmalaya Jaga Sungai Cihideung Jadi Percontohan, Mengapa? 

Bagi Irfan, luka terbesar bukan sekadar ketidakhadiran fisik. Yang lebih menyakitkan adalah kesan bahwa Muhammadiyah seolah tak terlihat dalam peta perhatian pemerintah kota.

“Yang paling menyakitkan bukan ditolak, tapi dianggap tidak ada,” tegasnya.

Sorotan Irfan tak berhenti di situ. Ia juga menyinggung soliditas internal pemerintahan.

Jika wali kota memang berhalangan karena tugas lain, mengapa tidak satu pun pejabat hadir mewakili Pemerintah Kota Tasikmalaya?

Pertanyaan itu berubah menjadi sindiran yang menyentuh jantung kepemimpinan.

“Kalau memang ada penugasan, kenapa tidak ada satu pun yang hadir mewakili pemerintah kota? Atau jangan-jangan wali kota sendiri sudah tidak dianggap sebagai pimpinan oleh bawahannya?” katanya.

Ia menilai absennya wali kota dan nihilnya perwakilan resmi dalam kegiatan pengajian ormas Islam merupakan catatan serius.

0 Komentar