Kalah Harga dari Induk, Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya Terjebak Rantai Dagang Panjang

Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya sepi pembeli
Suasana Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya yang sepi pembeli. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Rantai dagang yang berlapis inilah yang menjadi biang keladi.

Barang sudah melewati beberapa tangan sebelum sampai ke lapak Pasar Purbaratu. Alhasil, harga jual tak bisa bersaing.

“Saya sempat cross check ke warga. Kenapa enggak beli di Pasar Purbaratu? Jawabannya karena lebih mahal. Tomat, sayur, dan lainnya lebih murah di Pancasila atau di Cikurubuk,” tambahnya.

Apeng menegaskan, persoalan ini bukan semata kesalahan pedagang.

Minimnya pendampingan dan pemahaman usaha membuat pedagang baru tak mengenal jalur distribusi yang efisien.

Baca Juga:Ketika Muhammadiyah Merasa Tak Disapa Pemerintah Kota Tasikmalaya!Kabag Kesra Kota Tasikmalaya Telat Datang, Terlambat Menjelaskan! 

“Bukan dari bakulan, bukan dari petani langsung. Mungkin karena keterbatasan pengalaman, mereka enggak tahu harus belanja ke mana,” katanya.

Menurutnya, Pasar Purbaratu di Kota Tasikmalaya bukan hanya menghadapi masalah sepi pembeli, tetapi krisis desain ekosistem perdagangan.

Tanpa pedagang yang paham pasar dan memiliki akses langsung ke produsen, harga akan selalu kalah dari pasar induk.

“Kalau mau hidup, harus dievaluasi total. Dari seleksi dan pendampingan pedagang, pemutusan rantai pasok yang berlapis, sampai penguatan peran pasar. Jangan sampai Pasar Purbaratu cuma jadi pasar kedua—atau malah etalase sepi dari pasar induk,” tandasnya. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar