Kalah Harga dari Induk, Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya Terjebak Rantai Dagang Panjang

Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya sepi pembeli
Suasana Pasar Purbaratu Kota Tasikmalaya yang sepi pembeli. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pasar Purbaratu yang dibangun Pemerintah Kota Tasikmalaya dengan harapan menjadi simpul ekonomi warga lokal, kini justru terjebak dalam sunyi.

Pasar yang berdiri di atas lahan milik pemkot seluas 5.650 meter persegi itu memiliki 18 los dan 8 kios.

Pembangunannya dimulai sejak 2019 dan baru diresmikan pada 2024.

Namun setelah pita dipotong dan papan nama dipasang, denyut jual beli tak kunjung menetap.

Sepinya Pasar Purbaratu bukan berarti benar-benar mati.

Aktivitas masih terlihat, tetapi hanya sesekali dan bersifat temporer.

Baca Juga:Ketika Muhammadiyah Merasa Tak Disapa Pemerintah Kota Tasikmalaya!Kabag Kesra Kota Tasikmalaya Telat Datang, Terlambat Menjelaskan! 

Salah satunya saat digelar program Warung Stabilisasi Inflasi Kota Tasikmalaya (Wangsit).

“Kalau ramai itu pas akhir pekan, itu pun karena ada kegiatan Wangsit. Di luar hari itu, pasar kembali sepi,” ujar Apeng, pelaku UMKM Wangsit, saat diwawancara, Jumat (16/1/2026).

Menurut Apeng, setiap kali Wangsit digelar, Pasar Purbaratu mendadak hidup.

Warga berdatangan, transaksi terjadi, dan suasana pasar terasa seperti pasar sungguhan.

Namun begitu kegiatan selesai, lapak kembali sunyi, seolah denyut ekonomi ikut pulang bersama panitia.

Masalah Pasar Purbaratu, kata Apeng, tak bisa dilepaskan dari kebijakan pengisian pedagang sejak awal peresmian.

Saat itu, konsep yang diusung adalah pemberdayaan warga sekitar melalui sistem perwakilan kelurahan.

“Dulu, zaman Pak Cheka menjabat Pj Wali Kota 2024, konsepnya membantu warga Purbaratu untuk jualan. Setiap kelurahan diminta mengirim dua orang untuk berjualan di Pasar Purbaratu,” jelasnya.

Niat baik tersebut, menurut Apeng, justru melahirkan persoalan baru.

Baca Juga:Modus Numpang Buang Sampah, Motor Warga Kota Tasikmalaya Dibawa Kabur Orang Tak DikenalMusda V PUI Kota Tasikmalaya Soroti Penertiban Wakaf dan Pentingnya Kekokohan Integritas

Banyak warga yang berjualan bukan karena latar belakang sebagai pedagang pasar, melainkan karena asumsi sederhana: jualan di pasar pasti laku.

“Mungkin anggapannya, sekali jualan di pasar pasti ramai. Jadi yang jualan itu kebanyakan bukan pedagang biasa. Bukan yang sehari-hari jual sayur atau sembako,” katanya.

Akibatnya, muncul pedagang dadakan yang menjual kebutuhan pokok tanpa pengalaman dan tanpa akses langsung ke produsen.

Lebih ironis, sumber barang dagangan pun bukan dari petani atau peternak, melainkan dari pasar lain.

“Sayurannya belanja lagi ke Cikurubuk, belanja lagi ke Pancasila. Jadi beli dari pasar, lalu dijual lagi di Pasar Purbaratu,” beber Apeng.

0 Komentar