Sebaliknya, saat menghadapi Udinese, ia menyentuh bola delapan kali di kotak penalti.
Data pertandingan mempertegas bahwa di laga besar, Lautaro cenderung mundur jauh ke lini tengah.
Ia berperan sebagai penghubung permainan, kreator, bahkan pemain bertahan sehingga tidak lagi berada di tempat di mana penyerang mematikan seharusnya berada.
Baca Juga:Media Italia Ungkap Penyebab Pemain AC Milan Berlari untuk Rayakan Gol Perdana FullkrugDuetnya Bersama Dybala Dapat Pujian dari Media Italia, Ini Syarat AS Roma Permanenkan Malen dari Aston Villa
Ironisnya, Tramacere mencatat bahwa kemampuan Lautaro membaca ruang dan membantu tim justru menjadi senjata Inter.
Namun efek sampingnya jelas: ketajamannya terkikis karena ia terlalu jauh dari gawang.
Di laga besar, Marcus Thuram sering mengambil alih peran sebagai penyerang yang menyerang ruang di depan, sementara Lautaro justru mengisi peran gelandang serang.
Kini, tantangan besar menanti saat Inter menjamu Arsenal di San Siro pada Rabu (21/1) pukul 03.00 WIB.
The Gunners diprediksi akan mendominasi penguasaan bola, memaksa Inter untuk berlari, bertahan, dan menyerang balik dengan efisiensi.
Pertanyaannya: Akankah Lautaro kembali tenggelam dengan peran yang terlalu berat?
Atau inikah saatnya ia membungkam kritik dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar pembantai tim kecil?
Teka-teki ini tidak akan terjawab di Liga Champions yang akan menjadi panggung ujian sebenarnya bagi kapten nomor 10 Nerazzurri.
