Jelang Laga Lawan Arsenal, Lautaro Disindir Cuma Jago Lawan Tim Kecil

Lautaro Martinez
Lautaro Martinez Foto: Tangkapan layar Instagram@inter
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Inter Milan sedang melaju kencang di Serie A, dan di balik performa stabil itu, satu nama kembali menjadi pusat perhatian: Lautaro Martínez.

Sang kapten Nerazzurri tampil garang sebagai top skor sementara liga, tetapi menjelang duel akbar menghadapi Arsenal di Liga Champions, muncul satu kritik yang tidak bisa lagi diabaikan: Lautaro dianggap cuma tajam saat melawan tim kecil.

Analisis itu datang dari jurnalis Calciomercato, Emanuele Tramacere, melalui kolom editorialnya.

Baca Juga:Media Italia Ungkap Penyebab Pemain AC Milan Berlari untuk Rayakan Gol Perdana FullkrugDuetnya Bersama Dybala Dapat Pujian dari Media Italia, Ini Syarat AS Roma Permanenkan Malen dari Aston Villa

Ia mengawali dengan menegaskan bahwa Lautaro adalah “kekuatan pendorong utama Inter”, pemain yang memberi arah permainan, intensitas, dan gol.

Hal itu terlihat jelas ketika ia menjadi penentu kemenangan atas Udinese pekan lalu.

Namun, Tramacere kemudian mengangkat paradoks yang mulai memicu perdebatan di kalangan tifosi:

Bagaimana mungkin striker paling menentukan di Italia saat ini tidak pernah mencetak gol dalam pertandingan besar?

Angka-angka mendukung klaim kontroversial tersebut.

Musim ini Lautaro sudah menorehkan 15 gol dan 4 assist dalam 27 laga—11 gol di antaranya lahir di Serie A—menjadikannya pemimpin daftar top skor.

Tetapi, ada satu noda: Ia tidak mencetak satu pun gol dalam pertandingan melawan Napoli (dua kali), AC Milan, Juventus, dan AS Roma—empat rival langsung Inter dalam perebutan Scudetto.

Inter sendiri tampil jauh lebih efektif menghadapi tim papan bawah dan tersendat ketika bertemu sesama pesaing gelar.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Fullkrug Solusi AC Milan Hadapi Tim Papan BawahAdani Sanjung Alexis Saelemaekers: “Ia Bermain Seperti Cafu di Era Kejayaan AC Milan”

Dan perbedaan itu, kata Tramacere, sangat terkait gaya bermain Lautaro dan bukan soal mental, bukan pula soal kualitas, melainkan peran yang berbeda di lapangan.

Saat melawan tim “kecil”, Lautaro tampil sebagai penyelesaian akhir:

– berada di kotak penalti,

– mengambil peluang minimal,

– muncul tepat waktu untuk menyelesaikan serangan.

Tetapi di laga besar, Lautaro justru berubah menjadi pemain serbabisa yang terlalu banyak tugas.

Melawan Napoli, ia hanya menyentuh bola dua kali di kotak penalti.

Melawan Roma, Juventus, dan Milan—angka yang sama: dua sentuhan per laga dalam area paling krusial itu.

0 Komentar